INSIBERNEWS - Kabar kemunculan kembali virus Nipah di India memicu kekhawatiran global. Penyakit zoonosis yang pernah menimbulkan korban jiwa ini kembali menjadi sorotan karena tingkat kematiannya yang tinggi dan belum tersedianya vaksin khusus hingga saat ini.
Virus Nipah pertama kali terdeteksi pada akhir 1990-an dan dikenal memiliki fatality rate yang jauh lebih tinggi dibandingkan Covid-19.
Dalam sejumlah wabah sebelumnya, tingkat kematian akibat Nipah dilaporkan bisa mencapai 40 hingga 75 persen, tergantung pada kesiapan sistem kesehatan dan kecepatan penanganan.
Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Ambles Hari Ini, Momen Serok atau Tunggu Lebih Murah?
Otoritas kesehatan India melaporkan bahwa kasus terbaru muncul di wilayah Kerala, daerah yang sebelumnya juga pernah menjadi lokasi wabah serupa. Pemerintah setempat langsung memberlakukan langkah pengendalian ketat, termasuk pelacakan kontak, pembatasan aktivitas publik, serta pengawasan intensif di fasilitas kesehatan.
“Virus Nipah menular dari hewan ke manusia, terutama melalui kontak dengan kelelawar buah atau konsumsi makanan yang terkontaminasi,” demikian penjelasan otoritas kesehatan setempat dalam pernyataan resminya.
Baca Juga: Apple Perketat Privasi Lokasi, Akses Data Presisi Pengguna iPhone Kini Lebih Terbatas
Berbeda dengan Covid-19 yang menyebar cepat melalui droplet dan aerosol, penularan Nipah relatif lebih terbatas, namun dampaknya jauh lebih mematikan. Virus ini juga dapat menular antarmanusia melalui kontak erat, khususnya di lingkungan keluarga atau fasilitas medis tanpa perlindungan memadai.
Gejala awal infeksi Nipah sering kali mirip penyakit ringan, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Namun dalam waktu singkat, kondisi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan akut, kejang, hingga peradangan otak atau ensefalitis yang berujung kematian.
Hingga kini, belum ada vaksin maupun obat antivirus khusus untuk menangani virus Nipah. Penanganan pasien masih bersifat suportif, dengan fokus pada perawatan intensif untuk menjaga fungsi vital tubuh dan mencegah komplikasi berat.
Baca Juga: 15,3 Juta Warga Masih Unbanked, LPS Pasang Target Turunkan Angka Signifikan pada 2026
Para ahli menilai kemunculan kembali virus Nipah menjadi pengingat serius akan ancaman penyakit zoonosis di era modern. Selain kesiapsiagaan sistem kesehatan, pengawasan terhadap interaksi manusia dan satwa liar dinilai krusial untuk mencegah wabah serupa berkembang menjadi krisis global.***
Artikel Terkait
Polisi Sebut Tak Bisa Ungkap Alasan Kematian Lula Lahfah: Karena Keluarga Tolak Otopsi
Ribuan ASN Jakarta Akan Ikut Komcad, Menhan: Bukan Militerisasi, tapi Penguatan Nasionalisme
Setelah Dua Tahun Tertutup, Rafah Dibuka Terbatas: Harapan Baru bagi Warga Gaza
1 Juta Barel Minyak Mentah dari Aljazair Diboyong Pertamina ke Tanah Air
Harga Emas Pegadaian Ambles Hari Ini, Momen Serok atau Tunggu Lebih Murah?
Hadapi Ancaman Cuaca Ekstrem, Jakarta Kembali Gelar Operasi Modifikasi Cuaca
BBCA Terkoreksi Dalam Sepekan, Investor Ritel Wajib Waspada tapi Jangan Panik
Banjir Datang Lagi, Emak-emak Bekasi Ini Curhat Pedas tapi Jujur, Warganet Ikut Merasa
Warga Jabar Wajib Siaga! BMKG Prediksi Hujan Dominan, Garut-Tasik Berpotensi Petir
Tragis! Pabrik Tahu di Malang Meledak, 1 Pekerja Tewas