INSIBERNEWS - Penyeberangan Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir dipastikan akan kembali dibuka secara terbatas setelah ditutup hampir dua tahun. Pembukaan ini menjadi salah satu bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang bertujuan meredakan ketegangan dan membuka akses kemanusiaan bagi warga sipil di Gaza.
Pemerintah Israel mengumumkan bahwa perlintasan Rafah akan mulai beroperasi dua arah pada Minggu, 1 Februari. Namun, aktivitas yang diizinkan hanya mencakup pergerakan orang dalam jumlah dan kategori tertentu, bukan untuk lalu lintas barang secara bebas.
Baca Juga: Ribuan ASN Jakarta Akan Ikut Komcad, Menhan: Bukan Militerisasi, tapi Penguatan Nasionalisme
“Pembukaan ini dilakukan dengan pengaturan ketat dan hanya untuk pergerakan individu yang telah memenuhi persyaratan keamanan,” demikian pernyataan otoritas Israel terkait kebijakan tersebut.
Dalam pelaksanaannya, proses keluar-masuk Gaza melalui Rafah akan dikoordinasikan bersama pemerintah Mesir. Setiap warga yang melintas wajib mengantongi izin keamanan dari Israel sebagai bagian dari prosedur yang telah disepakati kedua pihak.
Untuk memastikan transparansi dan kepatuhan terhadap kesepakatan, misi pemantau dari Uni Eropa akan dilibatkan dalam pengawasan operasional penyeberangan. Kehadiran pihak internasional ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan serta meminimalkan potensi pelanggaran di lapangan.
Baca Juga: Polisi Sebut Tak Bisa Ungkap Alasan Kematian Lula Lahfah: Karena Keluarga Tolak Otopsi
Pembukaan Rafah juga memberi peluang bagi sebagian warga Gaza yang sebelumnya mengungsi untuk kembali ke wilayah mereka. Meski demikian, kepulangan tersebut tetap dilakukan secara selektif dan bertahap, menyesuaikan kondisi keamanan serta kapasitas penyeberangan.
Sejumlah pengamat menilai langkah ini sebagai sinyal positif, meski masih jauh dari solusi permanen. Akses Rafah selama ini menjadi urat nadi penting bagi mobilitas warga Gaza, terutama untuk keperluan medis, pendidikan, dan penyatuan keluarga.
Baca Juga: Harga Emas Antam Anjlok Tajam Akhir Pekan, Turun Rp260 Ribu per Gram
Organisasi kemanusiaan internasional menyambut baik keputusan tersebut, namun menekankan pentingnya perluasan akses di masa mendatang. Mereka menilai pembukaan terbatas belum cukup untuk menjawab kebutuhan jutaan warga Gaza yang terdampak konflik berkepanjangan.
Ke depan, keberlanjutan pembukaan Rafah sangat bergantung pada stabilitas situasi keamanan dan komitmen semua pihak terhadap kesepakatan gencatan senjata. Bagi warga Gaza, langkah kecil ini setidaknya menghadirkan secercah harapan setelah masa panjang keterisolasian.***
Artikel Terkait
Disebut Anak Haram, Amanda Manopo Ungkap Kesedihan Dibully Netizen Saat Hamil
Usai Rehabilitasi Narkoba, Onad Buka Pengakuan soal Sindrom Peter Pan dan Sulit Lepas dari Masa Muda
DFB Tegaskan Tak Ikut Seruan Boikot Piala Dunia 2026 di AS, Pilih Jalur Dialog dan Sportivitas
Puluhan WNI Korban Online Scam Dipulangkan dari Kamboja, Awal Repatriasi 2026
Kasus Hogi Minaya Ditutup, Perjuangan Bela Istri Berakhir Bebas dari Jerat Hukum
Longsor Terjang Bantaran Kali Bekasi, Enam Rumah Warga Tambun Utara Terdampak
Harga Emas Antam Anjlok Tajam Akhir Pekan, Turun Rp260 Ribu per Gram
Krisis Sosial Memburuk di Israel, Hampir Dua Juta Warga Hidup Miskin dan Anak-Anak Paling Terdampak
Polisi Sebut Tak Bisa Ungkap Alasan Kematian Lula Lahfah: Karena Keluarga Tolak Otopsi
Ribuan ASN Jakarta Akan Ikut Komcad, Menhan: Bukan Militerisasi, tapi Penguatan Nasionalisme