BBCA Terkoreksi Dalam Sepekan, Investor Ritel Wajib Waspada tapi Jangan Panik

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Sabtu, 31 Januari 2026 | 21:16 WIB
Saham BBCA Sempat Sentuh Titik Terendah Sejak 2022, Ini Kata Analis (Foto Istimewa)
Saham BBCA Sempat Sentuh Titik Terendah Sejak 2022, Ini Kata Analis (Foto Istimewa)

INSIBERNEWS - Pergerakan saham bank-bank besar kembali jadi sorotan pekan ini, setelah investor asing tercatat gencar melepas sejumlah saham perbankan papan atas. Salah satu yang paling mencolok adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencatatkan nilai jual bersih asing atau net sell hingga Rp 8,1 triliun dalam sepekan terakhir.

Tak hanya BBCA, tekanan jual juga dialami bank besar lain seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), hingga PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Kondisi ini menggambarkan bahwa sentimen pasar terhadap sektor perbankan sedang diuji, meski fundamental bank-bank besar masih dinilai relatif solid oleh banyak pelaku pasar.

 Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Ambles Hari Ini, Momen Serok atau Tunggu Lebih Murah?

Dalam periode yang sama, saham BBCA bahkan sempat menyentuh level terendah sejak Agustus 2022, yakni di harga Rp 7.025 per saham. Level ini menjadi perhatian karena menandakan adanya tekanan jual yang cukup kuat, terutama dari investor asing yang selama ini dikenal dominan dalam transaksi saham berkapitalisasi besar.

Secara mingguan, saham BBCA tercatat turun 3,37% dan berada di level Rp 7.400 per saham. Meski begitu, pergerakan harian menunjukkan tanda pemulihan, setelah pada perdagangan Jumat (30/1/2026) saham BBCA berhasil naik 2,78%. Bagi investor, kenaikan ini sering dibaca sebagai sinyal adanya aksi bargain hunting atau pembelian kembali saat harga sudah dianggap “diskon”.

 Baca Juga: Demutualisasi BEI Makin Dekat, Danantara Buka Opsi Masuk Jadi Pemegang Saham

Menariknya, di tengah derasnya aksi jual asing, mayoritas analis masih memasang pandangan optimistis terhadap BBCA. Dari 37 analis yang dikumpulkan Bloomberg, rekomendasi konsensus masih mengarah ke “beli”. Rata-rata target harga yang dipasang pun berada di level Rp 10.196 per saham, jauh di atas harga perdagangan saat ini.

Sejumlah rekomendasi terbaru juga menguatkan sentimen positif tersebut. Jeffrosenberg Chenlim dari Maybank Investment Banking Group, misalnya, masih memasang target harga BBCA di Rp 10.650 per saham. Sementara Budi Rustanto dari OCBC Sekuritas menargetkan BBCA di Rp 9.500 per saham, tetap memberikan ruang kenaikan yang cukup menarik bagi investor jangka menengah.

Tak berhenti di situ, James Stanley Widjaja dari Henan Putihrai juga menempatkan target harga BBCA di Rp 10.000 per saham. Sedangkan Jayden MacKintosh dari Macquarie memberikan rekomendasi outperform dengan target Rp 8.490 per saham. Meski target Macquarie lebih konservatif, rekomendasi outperform tetap menunjukkan keyakinan bahwa BBCA berpotensi tampil lebih baik dibanding pasar secara umum.

 Baca Juga: OJK Siap Ambil Langkah Strategis Usai Saham RI Dibekukan MSCI

Di sisi investor ritel, kondisi seperti ini biasanya memunculkan dua reaksi: panik karena melihat tekanan jual asing, atau justru mulai menghitung peluang masuk saat harga terkoreksi. Namun, pelaku pasar berpengalaman umumnya menekankan bahwa aksi asing tidak selalu berarti fundamental perusahaan memburuk, karena bisa saja terkait strategi alokasi aset global, rotasi sektor, atau kebutuhan likuiditas.

Meski demikian, investor tetap perlu berhati-hati dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan euforia “harga murah”. Koreksi saham bank besar dapat berlanjut jika sentimen pasar belum membaik, terutama bila dipengaruhi faktor eksternal seperti pergerakan suku bunga, nilai tukar, hingga kondisi ekonomi global. Strategi paling aman adalah disiplin mengatur porsi investasi, memasang batas risiko, dan tetap mengacu pada analisis yang matang.

 Baca Juga: Emas Pecah Rekor USD4.800, Saham Tambang Bergerak Tak Seirama di Bursa

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X