INSIBERNEWS - Kencing berbusa kerap dianggap sepele oleh sebagian orang. Banyak yang mengira busa pada urine hanya muncul karena aliran air yang kuat atau kondisi toilet tertentu. Padahal, jika terjadi berulang dan dalam jumlah banyak, kondisi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai.
Secara medis, urine berbusa dapat berkaitan dengan tingginya kadar protein dalam urine atau yang dikenal sebagai proteinuria. Protein seharusnya tetap berada di dalam darah, sehingga ketika zat ini keluar bersama urine, hal tersebut menandakan adanya masalah pada fungsi ginjal.
Baca Juga: Siap-siap! Harga Smartphone Diprediksi Naik Tajam 2026, Biaya Chip Jadi Biang Kerok
Ginjal berperan penting sebagai penyaring limbah dan cairan berlebih dalam tubuh. Ketika organ ini mengalami gangguan, penyaringan menjadi tidak optimal dan protein bisa ikut terbuang. Inilah yang kemudian memicu munculnya busa pada urine, terutama saat buang air kecil di pagi hari.
Selain gangguan ginjal, kencing berbusa juga dapat berkaitan dengan dehidrasi. Kurangnya asupan cairan membuat urine menjadi lebih pekat, sehingga tampak berbuih saat dikeluarkan. Meski terlihat ringan, kondisi ini tetap perlu diperhatikan jika berlangsung terus-menerus.
Dalam beberapa kasus, kencing berbusa juga bisa menjadi gejala awal penyakit kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Kedua penyakit ini dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal secara perlahan, tanpa disadari oleh penderitanya.
Baca Juga: Kemkomdigi Siaga Nataru, Jaringan Telekomunikasi Disiapkan Hadapi Lonjakan Trafik Hingga 30 Persen
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah infeksi saluran kemih, efek samping obat-obatan tertentu, hingga gangguan autoimun. Karena itu, penting untuk tidak langsung menyimpulkan penyebabnya tanpa pemeriksaan medis yang tepat.
Dokter menyarankan untuk segera melakukan pemeriksaan urine jika busa pada urine muncul secara konsisten, disertai pembengkakan pada kaki, kelelahan berlebihan, atau perubahan warna urine. Deteksi dini sangat penting agar penanganan bisa dilakukan sebelum kondisi memburuk.
Menjaga pola hidup sehat, memperbanyak minum air putih, mengontrol tekanan darah, serta rutin memeriksakan kesehatan ginjal menjadi langkah sederhana namun efektif. Mengenali sinyal tubuh sejak awal dapat membantu mencegah dampak yang lebih serius di kemudian hari.***
Artikel Terkait
Posko Trauma Healing di Deli Serdang Jadi Ruang Aman Anak-Anak Pascabanjir
OpenAI Luncurkan 'ChatGPT for Teachers', Ruang Kerja AI Gratis untuk 400 Ribu Pendidik hingga 2027
PNM Hadirkan Fitur Aksesibilitas Digital, Rayakan Hari Disabilitas dengan Langkah Inklusif yang Lebih Nyata
Anak di Bawah Umur Masuk Medsos? Menkomdigi: Platform yang Akan Disanksi, Bukan Orang Tuanya
Meta Siap Longgarkan Pelacakan Pengguna, Warga Bisa Pilih Lebih Sedikit Iklan Tertarget Mulai 2026
Akun Media Sosial Rentan Dibobol, Waspadai 6 Hal Ini Agar Tetap Aman
Registrasi SIM Card Pakai Pengenalan Wajah Dimulai 2026, Pemerintah Targetkan Ruang Digital Lebih Aman
Kemkomdigi Siaga Nataru, Jaringan Telekomunikasi Disiapkan Hadapi Lonjakan Trafik Hingga 30 Persen
TikTok Sepakati Penjualan Bisnis AS, Investor Amerika Jadi Pemegang Saham Mayoritas
Siap-siap! Harga Smartphone Diprediksi Naik Tajam 2026, Biaya Chip Jadi Biang Kerok