INSIBERNEWS - Harga jual rata-rata smartphone global diperkirakan akan mengalami kenaikan cukup signifikan pada 2026. Lonjakan tersebut disebut-sebut mencapai sekitar 6,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh meningkatnya biaya produksi, terutama pada komponen chip memori yang menjadi jantung perangkat ponsel pintar.
Dalam laporan terbarunya, firma riset pasar Counterpoint Research mengungkapkan bahwa kenaikan harga komponen utama akan berdampak langsung pada strategi penetapan harga produsen smartphone.
Kondisi ini dinilai sulit dihindari mengingat ketergantungan industri terhadap pasokan chip memori yang harganya terus menanjak.
Tak hanya soal harga, Counterpoint juga memperkirakan efek lanjutan terhadap pasar secara keseluruhan. Pengiriman smartphone secara global diproyeksikan turun hingga 2,1 persen pada 2026, seiring melemahnya daya beli konsumen akibat harga perangkat yang semakin mahal.
Direktur Riset Counterpoint, MS Hwang, menilai segmen pasar bawah menjadi pihak yang paling merasakan tekanan.
"Segmen pasar bawah, terutama smartphone dengan harga di bawah USD200, akan terkena dampak paling besar dari kenaikan biaya ini," ujarnya, seperti dikutip dari Silicon Republic, Minggu (21/12/2025).
Menurut Hwang, produsen yang selama ini bermain di kelas entry-level memiliki ruang gerak yang terbatas untuk menaikkan harga. Margin keuntungan yang tipis membuat mereka harus memilih antara menaikkan harga jual atau memangkas spesifikasi, dua opsi yang sama-sama berisiko menurunkan minat konsumen.
Kenaikan biaya chip memori sendiri dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari meningkatnya permintaan global untuk perangkat berbasis kecerdasan buatan, terbatasnya kapasitas produksi, hingga dinamika geopolitik yang memengaruhi rantai pasok semikonduktor. Situasi ini membuat harga komponen sulit kembali ke level sebelumnya dalam waktu dekat.
Baca Juga: Kisah Haru Pengungsi Aceh: Bocah Korban Banjir Minta Sajadah untuk Sang Ibu
Di sisi lain, segmen menengah dan premium diperkirakan lebih mampu menyerap kenaikan biaya tersebut. Konsumen di kelas ini dinilai cenderung tetap membeli perangkat baru, terutama jika dibarengi inovasi fitur, peningkatan performa, serta dukungan teknologi terbaru seperti AI on-device dan kamera beresolusi tinggi.
Meski demikian, Counterpoint mengingatkan bahwa produsen perlu berhati-hati dalam menyesuaikan strategi bisnis mereka. Jika kenaikan harga terlalu agresif tanpa diimbangi nilai tambah yang jelas, pasar smartphone global berpotensi menghadapi perlambatan lebih dalam dari yang diperkirakan pada 2026.***
Artikel Terkait
Berhasil Selamatkan 20 Warga Tamiang saat Banjir, Sertu Giman: Saya Minta Kekuatan pada Allah
Nataru 2025-2026 Diprediksi Landai, Polri Tak Perlu Siapkan One Way Nasional
Pemerintah Siapkan PP Baru, Jabatan ASN untuk Polisi Aktif Bakal Dibatasi Ketat
Menhub Ajak Masyarakat Manfaatkan Mudik Gratis Akhir Tahun, 33 Ribu Kursi Tersedia
LPG Sulit Didapat Pascabencana, Warga Takengon Andalkan Kayu Bakar
Keinginan Tambah Anak Angkat, Ahmad Dhani Bidik Adopsi Anak Yatim dari Gaza
Salurkan Bantuan dan Dukung Pemulihan Pascabencana, Danantara dan BRI Terjun Langsung ke Lokasi Bencana Aceh Tamiang
Kisah Haru Pengungsi Aceh: Bocah Korban Banjir Minta Sajadah untuk Sang Ibu
Akses Jalan Terputus Akibat Longsor, Warga Desa Simaninggir Tapteng Terpaksa Jemput Bantuan Lewati Hutan yang Curam dan Licin
Hanya Bisa Diakses dengan Kapal Nelayan, Korban Bencana Desa Sekumur Aceh Tamiang Butuh Tenda yang Layak