Modus yang dilakukan Harvey bersama sejumlah pihak lainnya diduga telah merugikan negara hingga ratusan triliun rupiah.
Ia disebut berperan mengatur kerja sama fiktif, pengumpulan dana ilegal, serta pengendalian aliran uang hasil korupsi yang tersebar melalui berbagai perusahaan perantara.
Baca Juga: Terjerat Kasus Penggelapan, Bos Mecimapro Justru Masuk Bui di Tengah Tuntutan Refund Konser Day6
Meski sempat mengajukan kasasi dengan harapan mendapatkan keringanan hukuman, Mahkamah Agung justru memperkuat putusan sebelumnya.
Majelis hakim berpendapat bahwa peran Harvey dalam kasus ini sangat signifikan dan berdampak besar terhadap kerugian negara serta kerusakan lingkungan akibat praktik pertambangan ilegal.
Baca Juga: Jaga Kualitas, BGN Tetapkan Batas Kapasitas Pelayanan Harian SPPG Maksimal 3,000 Porsi per Hari
Dengan eksekusi ini, Kejaksaan Agung menegaskan komitmennya untuk menindak tegas pelaku korupsi besar yang merugikan negara.
Kasus Harvey Moeis menjadi pengingat bahwa siapa pun yang terbukti menyalahgunakan kewenangan demi keuntungan pribadi akan menghadapi konsekuensi hukum yang berat, tanpa pandang bulu. ***
Artikel Terkait
TRAGIS! Karyawan Universitas Widyatama Ditemukan Tewas di Area Kampus, Diduga Bunuh Diri Dari Lantai Enam
Pelatihan Seru Seputar Dunia Content Creator, Promedia Bakal Gelar CoreLab di Kampus UNIKOM Bandung
Jaga Kualitas, BGN Tetapkan Batas Kapasitas Pelayanan Harian SPPG Maksimal 3,000 Porsi per Hari
Viral Video Oknum Polisi Lakukan Catcalling, Polda Metro Jaya Tindak Tegas Beri Hukuman Disiplin
Terjerat Kasus Penggelapan, Bos Mecimapro Justru Masuk Bui di Tengah Tuntutan Refund Konser Day6
Wali Kota Tri Adhianto Tegaskan Mutasi ASN di Bekasi Bersih dari Praktik Jual Beli Jabatan
PPATK Bongkar Perputaran Uang Judi Online Nyaris Capai Rp1000 Triliun, Puluhan Ribu ASN Terlibat
TRAGIS! Diduga Gegara Tak Dengar Klakson, Purnawirawan TNI 85 Tahun Tewas Disambar Kereta
Rest in Peace, Ayahanda YouTuber Jerome Polin Meninggal Dunia
Pertanyakan soal Bunga Pinjaman Proyek Whoosh dari China yang Lebih Mahal dari Jepang, Pengamat: Kenapa Kemahalan Tetap Dipilih?