INSIBERNEWS - Kasus keracunan massal yang menimpa ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manbhaul Hikam, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kini tengah menjadi sorotan tajam publik.
Insiden memprihatinkan ini meledak setelah para siswa menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan pada Selasa (1/9/2026) siang.
Bencana medis tersebut membuat area pesantren di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, mendadak dipenuhi sirene ambulans yang hilir mudik mengevakuasi korban.
Tragedi ini bermula saat 1.010 porsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah dibagikan kepada para pelajar tingkat Madrasah Aliyah (MA) dan MTs sekitar pukul 12.00 WIB.
Baca Juga: Setelah 20 Tahun, Lionel Messi Pamit dari Timnas Argentina dengan Tinggalkan 4 Trofi dan 115 Gol
Petaka baru terendus pada sore harinya, tatkala satu per satu santri mulai bertumbangan seusai melaksanakan ibadah salat asar.
Mereka serempak mengeluhkan pusing hebat, mual, muntah, diare akut, hingga kesulitan bernapas yang membutuhkan penanganan medis segera.
Menghadapi situasi darurat yang berkembang cepat, pihak pengurus ponpes awalnya hanya melarikan beberapa santri ke bidan terdekat di Desa Putat sebagai langkah pertolongan pertama.
Namun, dalam kurun waktu setengah jam, jumlah korban yang ambruk terus meroket tajam hingga mencapai puluhan orang.
Kondisi panik tersebut memaksa pihak pesantren memanggil armada ambulans guna merujuk para korban secara massal ke RS Pusura dan RSUD Sidoarjo.
Baca Juga: Awas Erupsi! Status Sinabung Naik Siaga, Pemkab Karo Bergegas Kosongkan Dua Desa Zona Merah
Eskalasi jumlah korban nyatanya sangat masif hingga sejumlah fasilitas kesehatan kewalahan menerima kedatangan rujukan pasien darurat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, membenarkan lonjakan drastis data santri yang harus dievakuasi ke berbagai pusat layanan kesehatan di wilayahnya.
"Sementara 293 santri dirawat di delapan rumah sakit," ungkap Herawati membeberkan rincian sebaran korban dalam keterangan resminya kepada publik pada Selasa (1/9/2026).
Salah satu fasilitas rujukan utama, yakni RSUD Notopuro Sidoarjo, dilaporkan sangat padat oleh antrean pasien dan keluarga santri hingga Selasa malam.
Merespons krisis ini, Bupati Sidoarjo, Subandi, langsung turun tangan menenangkan kepanikan para wali murid seraya memastikan seluruh korban mendapatkan pelayanan medis terbaik.
"Insyaallah tinggal pemulihan. Semua sudah didata oleh pondok, jadi tidak ada kekhawatiran terhadap orang tua. Besok kita akan cek ke lokasi SPPG yang ada di Tanggulangin, tugas kita sebagai kepala daerah adalah pengawasan," tegas Subandi menjanjikan evaluasi menyeluruh agar insiden nahas serupa tak kembali terulang.***
Artikel Terkait
Awas Erupsi! Status Sinabung Naik Siaga, Pemkab Karo Bergegas Kosongkan Dua Desa Zona Merah
BBM Nonsubsidi Resmi Naik per 1 September 2026, Ini Daftar Lengkap Harganya!
Setelah 20 Tahun, Lionel Messi Pamit dari Timnas Argentina dengan Tinggalkan 4 Trofi dan 115 Gol
Terungkap Modus Rekrutmen WNI Jadi Tentara Rusia, Awalnya Ditawari Kerja Satpam