INSIBERNEWS - Konsep work-life balance mungkin terdengar seperti sesuatu yang baru belakangan ini, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Namun, jika kita menengok sejarahnya, konsep ini sebenarnya sudah ada sejak dekade 1980-an dan pertama kali digagas oleh kelompok feminis Barat, Women’s Liberation Movement (WLM).
Dalam beberapa dekade berikutnya, perusahaan-perusahaan besar seperti IBM pun mulai memperkenalkan kebijakan remote working untuk membantu pekerja mengurangi tingkat stres dan mencapai kesejahteraan yang lebih baik.
Di permukaan, bekerja dari rumah seharusnya menawarkan berbagai keuntungan, seperti mengurangi stres karena tidak perlu berangkat ke kantor, lebih banyak waktu tidur, serta fleksibilitas dalam mengatur jadwal harian. Namun, seperti banyak hal dalam hidup, kenyataan sering kali lebih kompleks dari yang kita harapkan.
Kerja Fleksibel: Antara Ekspektasi dan Realitas
Bekerja dari rumah memang menguntungkan dalam banyak hal, baik bagi pekerja maupun perusahaan. Pekerja bisa menikmati waktu lebih banyak dengan keluarga atau diri sendiri, sementara perusahaan dapat mengurangi biaya operasional. Tetapi, kebijakan ini pun menyisakan masalah yang cukup signifikan.
Ternyata, banyak pekerja yang merasa terperangkap dalam kebijakan ini. Dengan akses yang mudah ke alat kerja seperti Slack, Zoom, dan Microsoft Teams, mereka sering merasa harus selalu "on" meski sudah melewati jam kerja. Pesan-pesan yang masuk bahkan di luar jam kerja pun harus segera direspons, karena alat komunikasi tersebut selalu ada di tangan mereka. Ini menciptakan budaya always on yang justru menambah stres, bukannya mengurangi tekanan kerja.
Digital Presenteeism dan Schedule Creep: Dua Masalah Utama
Salah satu masalah utama yang muncul dalam sistem kerja fleksibel adalah fenomena digital presenteeism, di mana pekerja merasa harus selalu aktif dan responsif di platform komunikasi meskipun sebenarnya tidak ada pekerjaan yang mendesak. Hal ini berkontribusi pada peningkatan stres dan menciptakan ilusi bahwa pekerja selalu sibuk, padahal tingkat produktivitas sesungguhnya belum tentu meningkat.
Selain itu, tanpa adanya batasan yang jelas antara waktu kerja dan waktu pribadi, banyak pekerja mengalami schedule creep. Ini adalah perpanjangan waktu kerja secara perlahan, yang pada akhirnya membuat mereka harus bekerja hingga malam hari atau bahkan akhir pekan.
Fakta Suram: Kerja Fleksibel Meningkatkan Jam Kerja
Studi yang dilakukan oleh Microsoft menemukan bahwa kerja jarak jauh justru meningkatkan kelelahan digital. Pekerja lebih banyak menghabiskan waktu dalam rapat virtual dan merespons pesan setelah jam kerja berakhir. Bahkan, National Bureau of Economic Research melaporkan bahwa hari kerja rata-rata menjadi lebih panjang hampir satu jam sejak peralihan ke kerja jarak jauh.
Baca Juga: Korut Buka Wisata Setelah Tutup 5 Tahun, Cuma Turis Dari Rusia yang Boleh Masuk
Kerja Fleksibel, Kesehatan Mental, dan Dampak Psikologis
Artikel Terkait
Pengangkatan CPNS 2025 Diundur ke Oktober, Lulusan CASN di Pastikan Tetap Diangkat! Ini Penjelasan Menteri PANRB Rini Widyantini
Info Mudik Gratis 2025: Syarat, Pendaftaran, Moda Transportasi, Jadwal, dan Rute yang Tersedia Tanpa Keluar Biaya, Solusi Mudik Aman dan Nyaman
Kemensos Respons Cepat Banjir Jakarta: Bantuan Rp815,5 Juta untuk Warga Terdampak Banjir Jakarta, 35.000 Paket Makanan dan Perlengkapan Darurat
BMKG Prediksi Hujan Intensitas Tinggi Terus Turun Hingga 11 Maret 2025, Waspada Banjir dan Longsor
Imbauan KAI: Jangan Ngabuburit di Jalur Kereta Api demi Keselamatan, Ancaman Denda Rp15 Juta atau Pidana 3 Bulan
Menteri Agama Nasaruddin Umar Rencanakan Kursus Calon Pengantin untuk Cegah Perceraian, apakah ini akan menjadi solusi?
Aturan Baru THR PNS 2025: Apa Saja Komponen dan Besaran Gaji yang Diterima Pegawai Negeri Berdasarkan Pangkat dan Golongan?
Anies Baswedan Ceramah di Masjid Salman ITB: Ilmu, Pikiran Kritis, dan Peran Demokrasi dalam Menjaga Kebijakan
Kabar Baik! Pengangkatan CPNS dan PPPK 2024 Dipercepat, Ini Jadwalnya
Cara Cek Hasil Seleksi SNBP 2025 yang Telah Diumumkan: 173.028 Siswa Lolos, Pendaftar Meningkat Pesat!