Work-Life Balance: Mengapa Kerja Fleksibel Belum Membawa Keseimbangan yang Diinginkan?

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Selasa, 18 Maret 2025 | 16:16 WIB
Work from Office (WFO) VS Work From Home (WFH)  ((WebEngage) )
Work from Office (WFO) VS Work From Home (WFH) ((WebEngage) )

INSIBERNEWS - Konsep work-life balance mungkin terdengar seperti sesuatu yang baru belakangan ini, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Namun, jika kita menengok sejarahnya, konsep ini sebenarnya sudah ada sejak dekade 1980-an dan pertama kali digagas oleh kelompok feminis Barat, Women’s Liberation Movement (WLM).

Dalam beberapa dekade berikutnya, perusahaan-perusahaan besar seperti IBM pun mulai memperkenalkan kebijakan remote working untuk membantu pekerja mengurangi tingkat stres dan mencapai kesejahteraan yang lebih baik.

Di permukaan, bekerja dari rumah seharusnya menawarkan berbagai keuntungan, seperti mengurangi stres karena tidak perlu berangkat ke kantor, lebih banyak waktu tidur, serta fleksibilitas dalam mengatur jadwal harian. Namun, seperti banyak hal dalam hidup, kenyataan sering kali lebih kompleks dari yang kita harapkan.

Kerja Fleksibel: Antara Ekspektasi dan Realitas

Bekerja dari rumah memang menguntungkan dalam banyak hal, baik bagi pekerja maupun perusahaan. Pekerja bisa menikmati waktu lebih banyak dengan keluarga atau diri sendiri, sementara perusahaan dapat mengurangi biaya operasional. Tetapi, kebijakan ini pun menyisakan masalah yang cukup signifikan.

Ternyata, banyak pekerja yang merasa terperangkap dalam kebijakan ini. Dengan akses yang mudah ke alat kerja seperti Slack, Zoom, dan Microsoft Teams, mereka sering merasa harus selalu "on" meski sudah melewati jam kerja. Pesan-pesan yang masuk bahkan di luar jam kerja pun harus segera direspons, karena alat komunikasi tersebut selalu ada di tangan mereka. Ini menciptakan budaya always on yang justru menambah stres, bukannya mengurangi tekanan kerja.

 Baca Juga: Cara Cek Hasil Seleksi SNBP 2025 yang Telah Diumumkan: 173.028 Siswa Lolos, Pendaftar Meningkat Pesat!

Digital Presenteeism dan Schedule Creep: Dua Masalah Utama

Salah satu masalah utama yang muncul dalam sistem kerja fleksibel adalah fenomena digital presenteeism, di mana pekerja merasa harus selalu aktif dan responsif di platform komunikasi meskipun sebenarnya tidak ada pekerjaan yang mendesak. Hal ini berkontribusi pada peningkatan stres dan menciptakan ilusi bahwa pekerja selalu sibuk, padahal tingkat produktivitas sesungguhnya belum tentu meningkat.

Selain itu, tanpa adanya batasan yang jelas antara waktu kerja dan waktu pribadi, banyak pekerja mengalami schedule creep. Ini adalah perpanjangan waktu kerja secara perlahan, yang pada akhirnya membuat mereka harus bekerja hingga malam hari atau bahkan akhir pekan.

Fakta Suram: Kerja Fleksibel Meningkatkan Jam Kerja

Studi yang dilakukan oleh Microsoft menemukan bahwa kerja jarak jauh justru meningkatkan kelelahan digital. Pekerja lebih banyak menghabiskan waktu dalam rapat virtual dan merespons pesan setelah jam kerja berakhir. Bahkan, National Bureau of Economic Research melaporkan bahwa hari kerja rata-rata menjadi lebih panjang hampir satu jam sejak peralihan ke kerja jarak jauh.

 Baca Juga: Korut Buka Wisata Setelah Tutup 5 Tahun, Cuma Turis Dari Rusia yang Boleh Masuk

Kerja Fleksibel, Kesehatan Mental, dan Dampak Psikologis

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X