INSIBERNEWS - Nilai tukar Rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Selasa (2/6/2026).
Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda dibuka melemah ke level Rp17.885 per dolar AS setelah terkoreksi hampir 80 poin dibanding perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah kali ini disebut dipengaruhi kombinasi faktor global, mulai dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah hingga ketidakpastian kebijakan ekonomi dan perdagangan di Amerika Serikat. Kondisi tersebut mendorong investor kembali memburu dolar AS sebagai aset aman.
Baca Juga: Buka-Bukaan! Ruben Onsu Ternyata Sengaja Hentikan Nafkah, Sebut Tak Dapat Hak sebagai Ayah
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai situasi internasional saat ini membuat indeks dolar kembali menguat cukup signifikan. Menurutnya, pasar global tengah merespons perkembangan terbaru hubungan antara Iran dan Amerika Serikat yang dinilai semakin memanas.
“Ketegangan geopolitik kembali meningkatkan kekhawatiran pasar. Kondisi ini membuat dolar AS menguat dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (2/6/2026).
Baca Juga: Konflik Ruben Onsu–Sarwendah Memanas, Dokumen Bank soal Rumah Ikut Dibongkar ke Publik
Di tengah situasi tersebut, Iran disebut menunjukkan sikap yang semakin keras terhadap AS. Iran dikabarkan mulai menghentikan komunikasi terkait sejumlah nota kesepahaman dan menuntut agar kesepakatan damai juga mencakup konflik di Libanon.
Situasi ini memicu spekulasi keterlibatan Iran dalam eskalasi perang antara Israel dan Libanon.
Meningkatnya tensi di kawasan Timur Tengah membuat pelaku pasar cenderung mengalihkan investasi ke instrumen yang dianggap lebih aman. Akibatnya, mata uang emerging market seperti rupiah mengalami tekanan cukup besar dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: Pesta Miras Berujung Pukul-Pukulan, Pria di Jakbar Diduga Aniaya Temannya hingga Patah Tulang
Sejumlah analis memperkirakan pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan dipengaruhi perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan ekonomi AS.
Meski demikian, pelaku pasar tetap menunggu langkah lanjutan dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar internasional.***
Artikel Terkait
Viral Video Wanita Sobek Uang Rupiah, Ternyata Bisa Kena Sanksi Hukum!
Nilai Tukar Rupiah Anjlok ke Rp17,503, Pengamat Soroti Dampak Konflik Selat Hormuz
Rupiah Melemah ke Rp17,800 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan APBN dan Pasar Tetap Terkendali
Rupiah Melemah ke Rp17.877, Bahlil dan ESDM Jamin Harga BBM Subsidi Tetap Stabil
Menkeu Purbaya Yakin Rupiah Bakal Bangkit dalam 2 Bulan, Pelemahan Dinilai Hanya Tekanan Sementara