Anies Baswedan Ceramah di Masjid Salman ITB: Ilmu, Pikiran Kritis, dan Peran Demokrasi dalam Menjaga Kebijakan

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Selasa, 11 Maret 2025 | 08:55 WIB
Anies Baswedan Ceramah di Masjid Salman ITB (Foto : tangkap layar story Instagram/@aniesbaswedan)
Anies Baswedan Ceramah di Masjid Salman ITB (Foto : tangkap layar story Instagram/@aniesbaswedan)

INSIBERNEWS - Pada Sabtu malam, 8/3/2025, Anies Baswedan menyampaikan ceramah di Masjid Salman ITB, setelah Salat Tarawih. Dalam kesempatan ini, Anies diminta untuk membawakan tema penting tentang "Ilmu dan Pikiran Kritis, Alat Menjaga Demokrasi." Ceramahnya mengandung banyak pelajaran tentang bagaimana sebuah negara dan masyarakat harus menghadapi dinamika demokrasi dengan kebijaksanaan dan keterbukaan.

Masjid sebagai Tempat Lahirnya Gagasan dan Pemikiran

Salah satu hal yang ditekankan Anies dalam ceramahnya adalah peran masjid yang lebih dari sekadar tempat ibadah. Bagi Anies, masjid juga merupakan tempat kelahiran gagasan. Hal ini mencerminkan pentingnya tempat-tempat spiritual untuk menjadi wadah lahirnya pemikiran dan diskusi kritis yang membangun masyarakat.

Anies menyoroti betapa pentingnya demokrasi yang terbuka dan sehat. "Konteks demokrasi sekarang kita harus kritis mempertanyakan, dan negara harus terbuka, nggak boleh negara tertutup menghadapi kritik, menghadapi komentar," ujar Anies dengan tegas. Hal ini menandakan bahwa dalam demokrasi yang sehat, keterbukaan terhadap kritik dan masukan adalah hal yang sangat krusial.

 Baca Juga: Pendidikan Bukan Hanya Soal Makan: Anies Baswedan Beri Pandangan tentang Prioritas Pendidikan di Indonesia

Pentingnya Kebijaksanaan dalam Mengambil Keputusan

Salah satu momen menarik dalam ceramah tersebut adalah ketika Anies menjawab pertanyaan dari jemaah mengenai bagaimana ia bisa mempertahankan visi, misi, dan integritasnya. Ia pun mengaitkan jawabannya dengan konsep kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Anies mengungkapkan bahwa dalam dunia nyata, kita sering kali dihadapkan dengan keputusan yang tidak ideal. Ia menjelaskan hal ini melalui model diagram 4 kuadran: nilai yang benar di sumbu x, dan manfaat yang baik di sumbu y.

"Yang kita inginkan tentu berada di kuadran 1, di mana keputusan yang dibuat itu benar secara nilai dan baik secara konsekuensi," kata Anies. Namun, dalam kenyataannya, sering kali kita harus membuat keputusan yang berada di kuadran lain yang mungkin tidak ideal, tetapi perlu diambil demi manfaat yang lebih besar. “Di sini ruang kebijaksanaan,” ujarnya.

Humor dan Efisiensi di Masjid Salman

Di sela-sela ceramahnya, Anies juga sempat menyampaikan candaan ringan tentang efisiensi yang menyegarkan suasana. Menanggapi pencahayaan di mimbar masjid yang terang benderang, Anies bercanda, "Nampaknya agak penuh ya malam ini, dari luar sana agak panjang perjalanan tadi… tapi tidak ingat suasana di malam karena kebanyakan kita di sini kalau siang, malam hari datang suasananya agak remang-remang di sini, bukan karena efisiensi ya?" sambil disambut tawa para jemaah.

Sambil tersenyum, Anies melanjutkan, “Bukan ya? Barang kali listrik di sana saya perhatikan Pak, listrik di sana agak redup, tapi bagian imam terang benderang. Yang di sini tidak mengalami efisiensi, yang di sana mengalami efisiensi ya.” Candaan tersebut disambut dengan gelak tawa dan sorakan jemaah, mencairkan suasana ceramah yang penuh dengan renungan kritis.

 Baca Juga: Pramono Anung Soroti Kedamaian Anies-Ahok: Jakarta Butuh Kebersamaan

Refleksi dan Harapan untuk Masa Depan

Ceramah Anies malam itu mengingatkan kita betapa pentingnya ilmu dan pikiran kritis dalam menjaga keseimbangan demokrasi. Demokrasi yang sehat bukan hanya tentang hak untuk memilih, tetapi juga tentang keterbukaan, kritik yang konstruktif, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Sebagai masyarakat, kita diajak untuk tidak hanya menerima segala hal begitu saja, tetapi untuk terus bertanya dan berpikir kritis demi kemajuan bersama.

Semoga momen ini bisa menjadi refleksi bagi kita semua, untuk terus menjaga integritas dan kebijaksanaan dalam setiap langkah kita, baik dalam kehidupan pribadi maupun berbangsa dan bernegara.

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X