Alumni SMKN 4 Semarang, Ryan Tama, juga menyatakan kekecewaannya terhadap narasi yang beredar.
Menurutnya, pernyataan polisi yang menggambarkan Gamma sebagai seorang gangster sangat tidak adil.
“Gamma itu anak baik, sangat jauh dari kenakalan remaja yang disebutkan polisi. Kasus ini seperti dibesar-besarkan dan ada yang disembunyikan,” ujar Ryan.
Terungkapnya Fakta Baru
Pengacara publik dari LBH Semarang, Fajar Muhammad Andhika, mengatakan bahwa lembaganya sedang bekerja keras untuk membuka fakta-fakta baru terkait penembakan tersebut.
Tim advokasi yang dibentuk pun berharap dapat mengungkapkan kebenaran yang selama ini terhalang oleh informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan.
"Kasus ini teralihkan oleh narasi-narasi yang tidak berdasar. Untuk mengungkap kebenaran, kami membutuhkan dukungan dari semua kalangan, mulai dari pelajar hingga mahasiswa," jelas Fajar.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa keluarga korban belum mendapatkan perlindungan hukum yang memadai, dan sangat rentan terhadap intimidasi.
Sebuah Tuntutan Keadilan
Bukan hanya teman-teman dekat Gamma yang menuntut keadilan, tapi juga para tokoh masyarakat dan aktivis yang hadir dalam aksi tersebut.
Mereka menuntut agar pihak kepolisian membuka kembali seluruh fakta terkait penembakan ini dan memastikan bahwa pihak yang bersalah diadili dengan adil.
Lebih jauh lagi, para aktivis ini juga mengingatkan bahwa lembaga kepolisian harus dievaluasi secara total.
Fajar, selaku pengacara, menekankan bahwa kasus seperti ini tidak boleh terulang lagi, dan masyarakat berhak untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
“Lembaga kepolisian harus lebih transparan dan terbuka dalam menangani kasus-kasus seperti ini. Agar tidak ada lagi tragedi serupa di masa depan,” kata Fajar tegas.
Baca Juga: Terdakwa Pungli Rutan KPK, Deden Rochendi, Mengaku Terima Jatah Bulanan Meski Sudah Tidak Menjabat