Ia menambahkan, setidaknya terdapat sekitar 40 warung UMKM yang menggantungkan hidup dari aktivitas wisata di pantai tersebut. Selain itu, puluhan tenaga kerja lokal juga terserap untuk mengelola dan menjaga kawasan wisata.
Baca Juga: Lagi-lagi Terseret Kasus Perselingkuhan, Jule Diduga Jadi Orang Ketiga Hubungan Sahabatnya
“Sekarang semuanya berhenti. Bukan hanya wisata yang mati, tapi mata pencaharian warga juga ikut terdampak,” ungkapnya.
Tohirin berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap persoalan banjir rob di wilayah pesisir Pemalang. Jika penanganan fisik belum memungkinkan, ia mendorong adanya program pemulihan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat terdampak.
“Yang dibutuhkan warga sebenarnya bukan bantuan sementara seperti sembako, tapi keterampilan. Pelatihan digital marketing, bengkel, atau pertanian modern di lahan terbatas itu jauh lebih bermanfaat untuk jangka panjang,” harapnya.
Baca Juga: Optimisme Pasar Modal Menguat, OJK Respons Proyeksi IHSG Tembus 9.000 Akhir 2025
Sebagai catatan, banjir rob di pesisir Kecamatan Ulujami telah berlangsung sejak 2017 hingga kini tanpa penanganan menyeluruh.
Tercatat ada 11 desa terdampak, dengan ribuan rumah dan kepala keluarga terdampak, ratusan hektare lahan pertanian dan tambak rusak, serta puluhan fasilitas pendidikan dan tempat ibadah terendam. Warga pun berharap pembangunan tanggul laut raksasa segera direalisasikan agar bencana serupa tidak terus berulang.***