Ia mengingat kembali masa-masa kelam yang dialami para ulama dan kiai pesantren pada masa pemerintahan Soeharto.
Menurutnya, banyak tokoh keagamaan dan aktivis sosial yang kala itu mendapat tekanan atau diperlakukan tidak adil karena perbedaan pandangan politik dengan rezim yang berkuasa.
Penolakan dari dua ormas Islam besar ini menunjukkan bahwa wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto bukan sekadar isu sejarah, melainkan juga menyentuh aspek moral dan keadilan publik.
Keduanya berharap pemerintah lebih bijak dalam menentukan sosok yang layak menyandang gelar tertinggi tersebut agar tidak menimbulkan luka lama dan polemik baru di masyarakat.***