Kisah Konflik 70 Tahun Korut dan Korsel, Mencair di Olimpiade Paris 2024 Saat Atlet Kedua Negara Lakukan Foto Selfie

Photo Author
Taufik RM, Insibernews
- Kamis, 1 Agustus 2024 | 20:33 WIB
Olimpiade Paris 2024, momen akur antara Korut dan Korsel. (foto: Ist)
Olimpiade Paris 2024, momen akur antara Korut dan Korsel. (foto: Ist)

INSIBERNEWS - Kisah dua tetangga satu rumpun yang dulunya pernah bersatu, antara Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) yang berpisah selama lebih dari 70 tahun ini, akibat konflik Semenanjung Korea atau setelah perang dingin antara dua negara adidaya Uni Soviet dan Amerika Serikat.

Dulunya, Korut yang bernama Republik Rakyat Demokratik Korea didukung Uni Soviet, dan Korsel, yang bernama Republik Korea merupakan pro-Barat, pernah berperang pada 25 Juni 1950.

Perang berawal, ketika sekitar 75 ribu tentara Korut melintasi wilayah paralel ke-38 yang merupakan perbatasan antara Korut dan Korsel.

Baca Juga: Selamat! Syahrini Melahirkan Anak Pertama, Bertepatan Dengan Hari Ulang Tahunnya Yang Ke 44 Tahun

Kemudian konflik makin memanas pada bulan Juli, ketika pasukan Amerika ikut dalam perang berpihak Korsel dengan dalih melawan kekuatan komunisme internasional, sedangkan Uni Soviet merasa sebagai negara yang memiliki kesepahaman komunis berpihak Korut.

Memasuki bulan Juli 1953, perang Korea berhenti total karena meningkatnya jumlah korban tewas mencapai 5 juta jiwa yang terdiri dari pasukan militer dan warga sipil.

Dilansir dari laman History.com, sebelum berpisah, selama beradab-abad Semenanjung Korea adalah satu, yang diperintah oleh kerajaan dinasti.

Baca Juga: Pelaku Penganiayaan Anak di Daycare Depok Sering Bagikan Tips Parenting, Netizen Sindir : Ngomongnya Kaya Malaikat

Setelah berakhirnya perang Rusia dan Jepang pada 1905, wilayah itu diduduki oleh Jepang dan dianeksasi secara resmi lima tahun kemudian.

Di bawah pemerintahan kolonial Jepang, Korea sangat menderita. Hal itu terjadi selama 35 tahun sampai akhir Perang Dunia II ketika pembagian dua negara dimulai.

Menurut Michael Robinson, profesor Sejarah Asia Timur di Universitas Indiana, keputusan itu dibuat tanpa melibatkan orang Korea. Uni Soviet dan Amerika Serikat membagi Korea menjadi dua zona pendudukan.

Baca Juga: Terungkap! KPK Temukan 3 Modus Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa, Apa Saja?

Robinson mengatakan, selama tiga tahun 1945-1948, tentara Soviet mendirikan rezim komunis di daerah utara garis lintang 38 atau paralel ke-38. Sedangkan di sebelah selatan garis itu, Amerika Serikat mendukung pembentukan pemerintahan militer.

Waktu itu, kebijakan Soviet sangat populer di kalangan buruh dan petani Korut. Sedangkan para kelas menengah Korea melarikan diri ke selatan, kini Korsel. Masih menurut Robinson, rezim yang didukung AS di Selatan menyukai elemen anti-komunis dan sayap kanan.

Halaman:

Editor: Taufik RM

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X