INSIBERNEWS - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah angkatan bersenjata Iran dilaporkan menyerang sebuah kapal kontainer yang tengah melintas di Selat Hormuz pada Kamis (25/6/2026).
Insiden tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur pelayaran internasional yang selama ini menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.
Serangan terjadi hanya beberapa jam setelah otoritas Iran mengeluarkan peringatan kepada seluruh kapal yang melintas agar menggunakan jalur pelayaran yang berada di bawah pengawasan perairan Iran.
Baca Juga: PBB Gerakkan Bantuan Darurat dan Tim SAR Global untuk Gempa Venezuela, Ribuan Jiwa Terdampak
Peringatan itu sekaligus menegaskan posisi Teheran yang mengklaim memiliki kendali atas jalur strategis tersebut, sementara banyak kapal sebelumnya memilih melintas melalui sisi selatan Selat Hormuz yang berbatasan dengan wilayah Oman.
Menurut informasi awal dari seorang pejabat Amerika Serikat yang enggan disebutkan identitasnya, kapal kontainer tersebut diduga menjadi sasaran serangan pesawat nirawak atau drone.
Insiden ini membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali terganggu, meski sebelumnya arus kapal mulai berangsur pulih setelah beberapa bulan mengalami penurunan akibat meningkatnya konflik di kawasan.
Baca Juga: MIRIS! Terjerat Utang Bank Keliling, Ibu di Tangerang Tega Jual Putrinya untuk Dinikahkan
Dampak serangan langsung terasa di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak lebih dari dua persen hingga mendekati 75 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan serupa dan diperdagangkan di kisaran 72 dolar AS per barel. Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi dari kawasan Teluk.
Situasi yang kembali memanas juga memaksa Organisasi Maritim Internasional (IMO) menunda rencana evakuasi pelaut dari ratusan kapal yang masih berada di kawasan Teluk Persia.
Di sisi lain, perkembangan ini dinilai dapat memengaruhi jalannya komunikasi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang tengah membahas isu keamanan Selat Hormuz serta program nuklir Teheran.
Baca Juga: Polisi Selidiki Dugaan BBM Ilegal, Truk Tangki Pertamina dan Nozzle Solar di Banyuwangi Disegel
Di tengah meningkatnya tensi, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dilaporkan menggelar pertemuan dengan para pemimpin negara-negara Teluk di Bahrain. Pertemuan tersebut bertujuan meredakan kekhawatiran negara-negara kawasan sekaligus membahas langkah bersama dalam menjaga stabilitas jalur pelayaran internasional yang memiliki peran vital bagi perdagangan dunia.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah memperingatkan seluruh kapal agar tidak menggunakan jalur alternatif di luar rute yang ditentukan. IRGC menegaskan pihaknya akan mengambil tindakan terhadap kapal yang mengabaikan instruksi tersebut. Pernyataan itu semakin mempertegas meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, yang hingga kini masih menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik dan perdagangan energi global.(*)
Artikel Terkait
Akhir dari Ketegangan? AS dan Iran Sepakat Damai, Selat Hormuz Siap Dibuka Kembali
Bahlil Klaim RI Tak Lagi Bergantung Minyak Timur Tengah meski Selat Hormuz Dibuka
Ketegangan Memuncak, Iran Tutup Selat Hormuz Meski Trump Janjikan Jalur Minyak Dunia Aman
Trump Siapkan Kebijakan Tarif di Selat Hormuz Jika Negosiasi AS-Iran Buntu
AS Bantah Selat Hormuz Ditutup Iran Lagi, Sebut Puluhan Kapal Masih Lalu Lalang Bawa Jutaan Barel Minyak