INSIBERNEWS - Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah drastis demi menjamin keamanan konsumsi para siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hingga 10 Agustus 2026, lembaga ini resmi menghentikan operasional secara permanen pada 504 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Tindakan tegas ini diambil guna memastikan seluruh fasilitas pengolahan makanan memenuhi kriteria kesehatan yang ketat.
Kebijakan ini didasari oleh temuan dan evaluasi komprehensif yang dilakukan oleh pihak dinas kesehatan di tingkat daerah melalui Kementerian Kesehatan.
Dari hasil pemeriksaan lapangan tersebut, ratusan fasilitas pengolah makanan dinyatakan tidak memenuhi standar kelayakan sanitasi yang ditetapkan, sehingga berisiko bagi kesehatan para konsumen.
Baca Juga: Ambulans Tabrak Bocah 10 Tahun Saat Karnaval HUT ke-81 RI di Pinrang, Sopir Bawa Pasien Darurat
Kepala BGN, Sudaryono, menyampaikan secara langsung penghentian izin operasional tersebut saat menghadiri Rapat Koordinasi Khusus bersama Kementerian Dalam Negeri serta para kepala daerah dari seluruh Indonesia di Jakarta.
"Ada 504 dapur yang kemudian kami tutup secara permanen karena dinyatakan tidak layak secara sanitasi," kata Sudaryono.
Tak berhenti di situ, BGN bersama dinas kesehatan setempat juga tengah memperluas jangkauan pengawasan ke lokasi pengolahan lainnya.
Saat ini, ada sekitar 3.000 dapur MBG baru yang sedang masuk dalam antrean audit ketat untuk memastikan kebersihan lingkungan masak, kualitas air, hingga tata kelola pengolahan bahannya.
Baca Juga: Cicipi Ayam Basi Sampai Muntah, Kepala SPPG Karanganyar Sigap Tarik 94 Paket Makan Siang Siswa
Sudaryono menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberikan kelonggaran atau kompromi terhadap dapur yang gagal memenuhi standar mutu.
Keselamatan para pelajar yang menjadi sasaran utama program ini merupakan hal mutlak yang harus dijaga tanpa pengecualian.
"Sisanya ada sekitar 3.000 yang saat ini sudah mendaftar, sekarang sedang dicek oleh dinas kesehatan masing-masing, yang kemudian kami tunggu, apabila dia tidak layak, maka mohon maaf, ini urusan nyawa seseorang, nyawa anak-anak kita, itu tidak bisa kita tolong lagi," tegasnya.
Kerja sama intensif dengan jajaran pemerintah daerah dan dinas kesehatan di berbagai wilayah pun mendapatkan apresiasi dari BGN.
Sinergi ini dinilai sangat membantu BGN dalam menyaring serta mengawasi kelayakan dapur pendaftaran agar risiko timbulnya kasus keracunan makanan dapat ditekan hingga nol persen.
Langkah penutupan ratusan fasilitas ini menjadi sinyal kuat bahwa BGN mengutamakan mutu pangan dibandingkan sekadar mengejar target kuantitas distribusi.
Evaluasi menyeluruh terhadap seluruh rantai pasok makanan akan terus digencarkan demi memastikan program bantuan gizi berjalan aman dan memberi manfaat optimal bagi anak-anak di seluruh Indonesia.***
Artikel Terkait
Sempat Viral Tolak Pasang Bendera, Tukang Cukur Bogor Minta Maaf: 'Indonesia Sudah Merdeka!'
BNN Tangkap ‘Bos Gendut’ Pemilik 98 Kg Sabu di Kampung Bahari, Senjata Api hingga Emas Ikut Disita
Ricuh Penggerebekan Kampung Bahari, Polisi Dilempari Mercon hingga Gas Air Mata Ditembakkan
Siapkan Skema Tukar Tambah Motor Bensin ke Listrik, Prabowo: Nambah Dikit
Ambulans Tabrak Bocah 10 Tahun Saat Karnaval HUT ke-81 RI di Pinrang, Sopir Bawa Pasien Darurat