INSIBERNEWS - Ratusan pelajar di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, tumbang usai menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (13/8/2026).
Insiden keracunan massal yang memicu kepanikan luar biasa ini justru diwarnai oleh pernyataan kontroversial dari Bupati Karo, Antonius Ginting.
Alih-alih meredakan suasana dengan empati, ucapan sang bupati saat meninjau kondisi para korban di rumah sakit malah memantik amarah publik lantaran melontarkan frasa yang dinilai sangat tidak pantas.
"Ini berita baik, kalau pun ada sesuatu kejadian, berita baiknya adalah semua anak-anak kita dalam keadaan baik," ucap Antonius di hadapan awak media, yang seketika memicu polemik liar karena seolah meremehkan esensi musibah mematikan tersebut.
Baca Juga: Ledakan Gas Hancurkan Dapur Makan Bergizi di Mojokerto, Tiga Teknisi Kritis Kena Luka Bakar
Menyadari situasi mulai memanas, Antonius berdalih bahwa prioritas utama pemerintah daerah saat ini adalah memastikan pemulihan kesehatan fisik seluruh pelajar yang terdampak.
Terkait urusan tagihan dan pembiayaan medis di rumah sakit, ia menyatakan semuanya akan diselesaikan secara tuntas sesuai dengan prosedur yang berlaku. Baginya, memastikan anak-anak terbebas dari masa kritis adalah pencapaian krusial di tengah gelombang kepanikan para orang tua.
"Data ini kemungkinan masih terus bertambah ya," ungkap Kepala Cabang Dinas Wilayah IV, Zulkarnain Barus, mengonfirmasi lonjakan pasien sembari merinci bahwa ratusan korban itu berjatuhan dari SMAN 1 Berastagi, SMA Swasta Bersama, serta SMK Swasta Bersama.
Peringatan Zulkarnain nyatanya benar terbukti, menyusul pembaruan data dari Dinas Kominfo Kabupaten Karo yang mencatat jumlah korban terus membengkak hingga menembus angka 289 orang.
Para pelajar malang tersebut terpaksa dievakuasi ke sejumlah fasilitas medis darurat, dengan rincian 157 anak dirawat di RS Amanda Berastagi, 90 di RS Efarina, 35 di RSUD Kabanjahe, serta sisanya ditangani secara intensif di RS Mina dan Puskesmas Berastagi.
Tak ayal, melihat ratusan tunas bangsa terkapar lemas dengan selang infus, frasa 'berita baik' dari lisan sang bupati langsung menjadi bulan-bulanan kekecewaan publik.
Warganet di dunia maya menyoroti bahwa dalam situasi genting yang berskala masif ini, Antonius seyogianya mengedepankan permohonan maaf terbuka dan tindakan evaluasi ketat terhadap vendor pengelola dapur gizi.
"Padahal bisa memberi statement yang ada empatinya, seperti permintaan maaf dan janji evaluasi," kritik tajam salah satu warganet yang geram.
Meski ada segelintir pihak yang mencoba memaklumi maksud sang bupati untuk meredakan kepanikan, mayoritas publik sepakat bahwa pemilihan bahasanya teramat keliru dan melukai perasaan para orang tua korban.***
Artikel Terkait
Sikat Habis Beking Aparat, Prabowo Pamer Laba BUMN Tembus Ratusan Triliun Tanpa Suntikan Dana
Viral Nakes Ketus ke Pasien, BPJS Kesehatan Bantah Isu Nunggak Bayar Rumah Sakit
Apresiasi Kekompakan Prabowo-Gibran, Ketua DPD Ingatkan Pentingnya Kebijakan Pro-Rakyat
Heboh! Pria Keciduk Rekam Penumpang Wanita di Stasiun Sudirman, KAI Commuter Diminta Perketat Keamanan
Ledakan Gas Hancurkan Dapur Makan Bergizi di Mojokerto, Tiga Teknisi Kritis Kena Luka Bakar