Hidup Gelap Gulita, Sebulan Pascabanjir Warga Babo Aceh Tamiang Masih Krisis Listrik dan Kekurangan Logistik

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Sabtu, 27 Desember 2025 | 14:54 WIB
Desa Babo di Aceh Tamiang masih gelap karena listrik yang belum pulih pascabanjir akhir November 2025.  (Instagram/vitadaud19)
Desa Babo di Aceh Tamiang masih gelap karena listrik yang belum pulih pascabanjir akhir November 2025. (Instagram/vitadaud19)

INSIBERNEWS - Sudah satu bulan berlalu sejak bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayah Sumatera. Peristiwa alam tersebut berdampak besar pada tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, serta meninggalkan luka mendalam bagi ratusan ribu warga terdampak.

Selama masa tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana, bantuan dari relawan, organisasi kemanusiaan, dan pemerintah terus mengalir. Namun, kondisi geografis dan akses jalan yang rusak parah membuat distribusi bantuan belum sepenuhnya merata, terutama di daerah-daerah terpencil.

Pengungsi Masih Membutuhkan Pakaian dan Selimut
Selain kebutuhan pangan, warga terdampak banjir di sejumlah wilayah Aceh masih sangat memerlukan bantuan sandang. Pakaian layak pakai, selimut, hingga alas tidur menjadi kebutuhan mendesak, khususnya bagi anak-anak dan lansia.

Baca Juga: Kompak Bergerak di Daerah Terdampak Bencana, Pemerintah Ucapkan Terima Kasih kepada Dokter dan Relawan

Kondisi ini terlihat di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang. Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan anak-anak mendatangi relawan untuk meminta baju dan selimut. Banyak dari mereka terlihat tidak mengenakan alas kaki maupun pakaian yang layak.

Sebulan Hidup dalam Kegelapan
Tak hanya kekurangan pakaian, warga Desa Babo juga masih harus bertahan tanpa aliran listrik. Hingga akhir Desember 2025, listrik di wilayah tersebut belum kembali menyala, membuat aktivitas warga sangat terbatas saat malam hari.

Kondisi gelap gulita selama sebulan memaksa warga bergantung pada lilin dan sumber penerangan darurat. Relawan menyebutkan bahwa warga juga membutuhkan genset, logistik penerangan, serta perlengkapan tidur untuk bertahan di tengah keterbatasan.

Baca Juga: Kasus Izin Tambang Konawe Utara Dihentikan, KPK Terbitkan SP3

Desa Babo Terendam Banjir Hingga 15 Meter
Berdasarkan keterangan yang dibagikan oleh Marlina Usman, istri Gubernur Aceh, Desa Babo sempat diterjang banjir dengan ketinggian air mencapai 15 meter. Arus deras menghantam permukiman warga dan menyeret sejumlah rumah, sehingga aktivitas sosial dan roda perekonomian lumpuh total.

Hingga kini, sebagian wilayah masih terisolasi akibat kerusakan infrastruktur, memperlambat proses pemulihan dan penyaluran bantuan.

Data Korban Banjir Sumatera Terus Bertambah
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat adanya penambahan korban jiwa di Aceh dan Sumatera Barat.

Baca Juga: Mantan Ketum PB IDI Tekankan Pentingnya Penanganan Kesehatan Korban Banjir di Sumatera: Harus Cepat Ditolong Tanpa Rujukan ke Rumah Sakit

Hingga 26 Desember 2025, jumlah korban meninggal akibat banjir di Sumatera mencapai 1.137 orang, sementara 163 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Jumlah warga yang harus mengungsi di tiga provinsi terdampak kini mencapai 457.255 jiwa, menjadikan bencana ini sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Halaman:

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X