INSIBERNEWS - Sudah dua pekan berlalu sejak banjir bandang dan longsor menghantam sejumlah wilayah di Aceh, namun kabar duka masih terus terdengar. Di tengah upaya pencarian yang belum berhenti, sejumlah warga masih dinyatakan hilang dan keluarga mereka menanti kepastian dengan perasaan campur aduk.
Salah satu pihak yang ikut membantu proses pencarian adalah tim penyelamat dari China. Kehadiran mereka di Aceh sempat menjadi perhatian, terutama setelah Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem mendatangkan langsung para ahli tersebut untuk mempercepat penemuan jenazah yang diduga tertimbun lumpur dan material banjir.
Namun, kondisi di lapangan ternyata jauh lebih kompleks dari perkiraan. Mualem mengakui bahwa hingga saat ini, hasil kerja tim China tersebut belum dapat menunjukkan hasil maksimal karena medan yang dihadapi sangat berat.
Menurutnya, tumpukan kayu yang berserakan di lokasi banjir menjadi hambatan utama dalam proses pendeteksian tubuh para korban. Material kayu itu menggunung di sejumlah titik, menyulitkan alat dan sensor yang digunakan tim untuk menembus lapisan lumpur dan sisa-sisa bangunan.
“Hasil kerja mereka belum maksimal, medannya masih digenangi kayu-kayuan,” kata Mualem dalam keterangannya kepada awak media.
“Itu yang membuat mereka kewalahan untuk mendapatkan mayat,” lanjutnya.
Tim beranggotakan lima orang itu sebelumnya bertugas di Aceh Utara, salah satu wilayah yang paling parah terdampak banjir bandang. Setelah menyelesaikan tugas di sana, mereka dijadwalkan berpindah ke Aceh Tamiang untuk melanjutkan pencarian di titik-titik yang masih berpotensi menyimpan korban.
Kehadiran tim tersebut memang sempat menimbulkan diskusi publik. Di tengah klaim pemerintah pusat yang menyatakan siap menangani bencana secara mandiri, keputusan mendatangkan tim Blue Sky Rescue (BSR) dari China memberikan sinyal bahwa medan di Aceh membutuhkan dukungan keahlian tambahan.
Baca Juga: Harga Perak Meroket, Tumbuh Lebih Cepat dari Emas dan Catat Rekor Sepanjang Masa
Mualem menegaskan bahwa tim tersebut memang memiliki spesialisasi dalam mendeteksi jenazah yang telah tertimbun lama, terutama di wilayah bencana dengan material berat.
“Itu kepakaran mereka, itu tugas mereka yang datang ke sini,” ujarnya ketika ditemui setelah rapat dengan Presiden Prabowo pada 7 Desember 2025 lalu.
Sementara itu, laporan terbaru dari Posko Tanggap Darurat Hidrometeorologi Pemprov Aceh hingga Kamis sore, 11 Desember 2025, mencatat sebanyak 407 warga meninggal dunia akibat banjir dan longsor. Selain itu, 36 orang masih dilaporkan hilang dan pencarian terus berlanjut di berbagai titik yang sulit dijangkau.
Artikel Terkait
Jelang Nataru dan Pascabencana, Kemendag Intensif Awasi Distribusi MinyaKita di Sumatera
Harga Perak Meroket, Tumbuh Lebih Cepat dari Emas dan Catat Rekor Sepanjang Masa
BGN Sampaikan Duka dan Janji Perketat SOP Usai Mobil MBG Tabrak Siswa di Kalibaru
Alasan Keselamatan, Semua Atlet Kamboja Batal Ikut SEA Games 2025 Thailand
Perkuat Inklusi Keuangan, AgenBRILink Permudah Akses Layanan Perbankan Masyarakat di Perbatasan
Suara Adzan yang Tak Pernah Padam, Kisah Pilu Suami Kehilangan Istri dalam Bencana Banjir dan Longsor Sibolga
Endapan Lumpur Setinggi Dada Hingga Atap, Warga Sumatera Harus Merangkak demi Masuk Rumah
Laga Hidup-Mati Timnas U-22, Indonesia Wajib Menang Besar atas Myanmar demi Jaga Tiket Semifinal
Ammar Zoni Akhirnya Lihat Anak-Anaknya Lewat Video, Irish Bella Dinilai Kooperatif Jaga Hubungan Baik
BNPB Ungkap Korban Tewas Banjir-Longsor Sumatera Hampir Tembus 1.000 Jiwa, Pencarian Masih Berjalan di Banyak Titik