Host podcast, Sri Radjasa Chandra, mantan anggota BIN, menambahkan bahwa persoalan Whoosh kini tidak hanya berkaitan dengan utang atau pembiayaan, tetapi juga potensi masuknya pengaruh asing melalui proyek infrastruktur.
Baca Juga: Prabowo Minta Pendidikan Lingkungan Diperkuat, Guru Diminta Tanamkan Kepedulian Sejak Dini
Rocky bahkan menyebut Jepang sebagai pihak yang paling pantas kecewa, sebab studi dan survei awal kereta cepat dilakukan negara tersebut selama bertahun-tahun. Namun hasilnya justru diambil alih dan digunakan China sebagai dasar penyusunan proposal.
Pandangan serupa juga pernah disampaikan akademisi NTU Singapura, Sulfikar Amir. Ia menilai studi yang disusun China tidak berbasis penelitian lapangan dan hal itu menjadi salah satu penyebab membengkaknya biaya proyek Whoosh hingga terjadi cost overrun.
Dengan kembali mencuatnya kritik dari berbagai pihak, Rocky menyebut masyarakat berhak bertanya sejauh mana proyek Whoosh memberi manfaat nyata, bukan hanya sebagai simbol modernitas atau alat pembuktian antar negara.***
Artikel Terkait
Kecelakaan Beruntun di Cikampek: Truk Tabrak Belasan Kendaraan, 2 Nyawa Melayang!
Prabowo Kirim 17 Starlink ke Sumut untuk Pulihkan Komunikasi di Daerah Terisolasi Banjir dan Longsor
Prabowo Minta Pendidikan Lingkungan Diperkuat, Guru Diminta Tanamkan Kepedulian Sejak Dini
Kronologi Kecelakaan Tunggal Aktor Gary Iskak yang Hilang Kendali saat Kendarai Motor di Pesanggrahan
Polri Buka Posko Kemanusiaan, Ajak Warga Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Seluruh Indonesia
Prabowo Ingatkan Kepala Daerah: 'Jangan Korupsi Anggaran Pendidikan, Itu Hak Masa Depan Bangsa!'
BPKB Basah, STNK Hilang Diterjang Banjir? Begini Cara Mengurusnya Tanpa Ribet
Trump Wacanakan Pangkas Pajak Penghasilan Besar-Besaran, Klaim Negara Bisa Hidup dari Tarif
Belanja Pemerintah Tembus Rp1.109 T, Airlangga Sebut Dorong Laju Ekonomi di Akhir 2025
Pemerintah Siapkan Mudik Gratis Nataru 2025 2026, Kapasitas Disebut Bakal Jauh Lebih Besar