INSIBERNEWS - Pengamat politik Rocky Gerung kembali melontarkan kritik tajam terkait proyek kereta cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh yang kembali ramai diperbincangkan publik. Menurutnya, sebelum membicarakan capaian atau manfaat, hal yang harus dilihat adalah gagasan dasar dan urgensi pembangunan moda transportasi tersebut.
Dalam percakapannya di Ten Ten Podcast, Rocky menilai jalur Jakarta–Bandung bukanlah rute prioritas yang harus disediakan kereta cepat. Ia menyebut kebutuhan masyarakat tidak sejalan dengan arah pembangunan proyek tersebut.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Mudik Gratis Nataru 2025 2026, Kapasitas Disebut Bakal Jauh Lebih Besar
“Orang ke Bandung untuk wisata, untuk kerja, ya naik mobil atau naik yang lain. Ini bukan jalur bisnis primer,” ujar Rocky, Sabtu (29/11/2025).
Menurutnya, jika proyek itu diklaim untuk melayani publik secara luas, hal tersebut sulit dipercaya lantaran harga tiket ke depan hampir pasti meningkat. Rocky melihat Whoosh lebih mirip proyek premium yang tidak menyasar kebutuhan mayoritas masyarakat.
Ia juga menyebut bahwa urgensi pembangunan Whoosh tidak pernah benar-benar jelas sejak awal. Karena itu, tidak sedikit publik yang akhirnya memandang proyek tersebut lebih sebagai ajang pamer daripada kebutuhan strategis.
Baca Juga: Trump Wacanakan Pangkas Pajak Penghasilan Besar-Besaran, Klaim Negara Bisa Hidup dari Tarif
Lebih jauh, Rocky menolak anggapan yang menyebut Whoosh sebagai lompatan teknologi Indonesia. Ia membandingkan dengan era Presiden Soeharto dan B.J. Habibie yang menurutnya justru menciptakan capaian teknologi yang lebih signifikan.
“Lompatan teknologi itu ketika Habibie bikin pesawat. Ini Whoosh jalannya masih merayap di darat,” kata Rocky.
“Dulu Pak Harto mulai dengan IPTN, itu lompatan. Habibie menemukan rumus wing design yang dipatenkan, itu Indonesia pernah main di 30 ribu kaki.”
Baca Juga: BPKB Basah, STNK Hilang Diterjang Banjir? Begini Cara Mengurusnya Tanpa Ribet
Rocky menilai pengembangan pesawat terbang pada masa itu memberi kontribusi nyata pada penguasaan teknologi, sementara Whoosh tidak dapat disandingkan pada level yang sama.
Dalam bagian lain perbincangan, Rocky juga menyinggung dugaan bahwa proyek Whoosh memiliki dimensi politik luar negeri, khususnya dalam hubungan Indonesia dengan China. Ia mengamini asumsi yang beredar bahwa proyek ini bisa saja menjadi bagian dari strategi membangun kedekatan dengan Beijing.
“Publik bertanya, apakah ini bagian dari mark up? Atau bagian dari merapikan relasi dengan China?” katanya.
Artikel Terkait
Kecelakaan Beruntun di Cikampek: Truk Tabrak Belasan Kendaraan, 2 Nyawa Melayang!
Prabowo Kirim 17 Starlink ke Sumut untuk Pulihkan Komunikasi di Daerah Terisolasi Banjir dan Longsor
Prabowo Minta Pendidikan Lingkungan Diperkuat, Guru Diminta Tanamkan Kepedulian Sejak Dini
Kronologi Kecelakaan Tunggal Aktor Gary Iskak yang Hilang Kendali saat Kendarai Motor di Pesanggrahan
Polri Buka Posko Kemanusiaan, Ajak Warga Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Seluruh Indonesia
Prabowo Ingatkan Kepala Daerah: 'Jangan Korupsi Anggaran Pendidikan, Itu Hak Masa Depan Bangsa!'
BPKB Basah, STNK Hilang Diterjang Banjir? Begini Cara Mengurusnya Tanpa Ribet
Trump Wacanakan Pangkas Pajak Penghasilan Besar-Besaran, Klaim Negara Bisa Hidup dari Tarif
Belanja Pemerintah Tembus Rp1.109 T, Airlangga Sebut Dorong Laju Ekonomi di Akhir 2025
Pemerintah Siapkan Mudik Gratis Nataru 2025 2026, Kapasitas Disebut Bakal Jauh Lebih Besar