INSIBERNEWS - Meningkatnya kasus kekerasan dan perundungan di lingkungan sekolah mendorong Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengambil langkah cepat.
Ia memastikan pemerintah segera membentuk tim khusus pencegah kekerasan di setiap sekolah, dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan melibatkan semua unsur pendidikan.
Baca Juga: Banyak Siswa SMAN 72 Jakarta Masih Diliputi Trauma, Pemerintah Genjot Pendampingan Psikologis
Mu’ti menyampaikan rencana tersebut saat menanggapi kasus tragis yang menimpa MH (13), siswa SMP Negeri 19 Tangerang Selatan, yang meninggal dunia akibat dugaan bullying dan penganiayaan yang berlangsung sejak awal tahun ajaran.
“Nanti kita akan membentuk tim yang ada di sekolah-sekolah dengan pendekatan yang lebih humanis, komprehensif, dan partisipatif,” ujar Mu’ti saat ditemui di SMPN 4 Bekasi, Senin (17/11).
Baca Juga: Geger! Amukan Pria Diduga ODGJ di Purwakarta Bacok Lima Warga, Satu Korban Alami Luka di Leher
Menurutnya, tim tersebut tidak hanya bertugas merespons ketika kasus terjadi, tetapi juga melakukan edukasi, pemantauan perilaku siswa, hingga membangun sistem pelaporan yang aman bagi korban maupun saksi.
Meski demikian, Mu’ti mengakui bahwa dirinya belum menerima laporan lengkap dari aparat kepolisian mengenai insiden di Tangsel. Ia menyebut justru mengetahui detail awal kasus tersebut dari pemberitaan media.
“Tahunya dari wartawan malah. Saya masih menunggu ya laporannya, belum dapat laporan secara lengkap,” ungkapnya.
Baca Juga: Redenominasi Rupiah Makin Ramai Dibahas, Publik Khawatir Soal Efek Psikologis
MH meninggal dunia di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, pada Minggu (16/11) setelah seminggu menjalani perawatan intensif. Ia mengalami luka serius diduga akibat dianiaya teman sekelasnya, yang puncaknya terjadi pada 20 Oktober ketika kepalanya dipukul menggunakan bangku besi.
Kakak korban, Rizki, menggambarkan kondisi adiknya semakin memburuk setelah kejadian tersebut. Tubuh MH melemah hingga nyaris tak bisa digerakkan, sebelum akhirnya dirujuk dari rumah sakit di Tangsel ke RS Fatmawati karena kondisinya makin kritis.
Baca Juga: Timnas CP Indonesia Kunci Tiket Semifinal Usai Tumbangkan Jepang dalam Laga Menegangkan
Rizki juga mengungkap, tindakan bullying sebenarnya telah berlangsung sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), namun tidak pernah ditangani secara serius hingga akhirnya berujung fatal.
Artikel Terkait
RI Siap Produksi Massal KSOT, Begini Perbandingannya dengan AS, Rusia, hingga China
GEGANA! Polisi Amankan Direktur dan Komisaris Perusahaan di Gudang 42.000 Liter BBM Ilegal: Skandal Terbesar di Babel?
Pemerintah Pastikan Harga Beras Tak Melambung Jelang Nataru 2026
Saut Situmorang Soroti Inkonsistensi KPK dan Nilai-Nilai yang Mulai Memudar
Park Bom Bikin Heboh Lagi, Unggah Kolase Foto Bareng Lee Min Ho yang Bikin Fans Terbelalak
Jelang Coachella 2026, Justin Bieber Nekat Tetap Latihan Meski Cedera Tulang Rusuk Gegara Onewheel
Timnas CP Indonesia Kunci Tiket Semifinal Usai Tumbangkan Jepang dalam Laga Menegangkan
Redenominasi Rupiah Makin Ramai Dibahas, Publik Khawatir Soal Efek Psikologis
Geger! Amukan Pria Diduga ODGJ di Purwakarta Bacok Lima Warga, Satu Korban Alami Luka di Leher
Banyak Siswa SMAN 72 Jakarta Masih Diliputi Trauma, Pemerintah Genjot Pendampingan Psikologis