Meta Perkuat WhatsApp dan Messenger dengan Fitur Anti-Penipuan, Lindungi Pengguna dari Modus Online

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Rabu, 22 Oktober 2025 | 18:40 WIB
Ilustrasi WhatsApp (Foto : AFP Via Getty Images)
Ilustrasi WhatsApp (Foto : AFP Via Getty Images)

INSIBERNEWS - Meta kembali melangkah lebih jauh dalam memperkuat keamanan pengguna di platform perpesanan populernya, WhatsApp dan Messenger.

Raksasa teknologi itu memperkenalkan fitur deteksi penipuan terbaru yang dirancang khusus untuk menekan maraknya kejahatan digital, terutama yang menargetkan kelompok lanjut usia atau pengguna yang kurang paham teknologi.

Dalam pembaruan terbarunya, WhatsApp kini akan menampilkan peringatan otomatis saat pengguna mencoba membagikan layar (screen sharing) dengan seseorang yang belum dikenal. Fitur ini diklaim sebagai langkah preventif untuk mencegah pelaku kejahatan mencuri data sensitif seperti kode OTP, informasi perbankan, atau data pribadi lainnya.

Baca Juga: Rayakan HUT Maluku Utara, Malut United Turunkan Harga Tiket Laga Kontra Semen Padang

“Banyak kasus penipuan dimulai dari permintaan berbagi layar dengan alasan teknis atau bantuan tertentu. Kami ingin mencegah hal itu terjadi sejak awal,” ujar juru bicara Meta dalam pernyataan resminya yang dikutip TechCrunch, Selasa (22/10).

Sementara itu, Messenger juga mendapatkan pembaruan keamanan signifikan. Sistem baru akan secara otomatis menandai pesan yang terindikasi mencurigakan.

Pengguna kemudian akan diberikan pilihan untuk melaporkan atau mengirim pesan tersebut ke sistem kecerdasan buatan (AI) Meta agar dapat ditinjau lebih lanjut. AI akan menganalisis pola pesan dan perilaku pengirim untuk menentukan apakah pesan tersebut termasuk bagian dari aktivitas penipuan.

Baca Juga: BI Jelaskan Asal Data Dana Rp4,17 Triliun Pemprov Jabar yang Disebut Mengendap di Deposito

Meta menjelaskan, fitur ini merupakan bagian dari upaya global perusahaan dalam menekan angka kejahatan digital yang terus meningkat di berbagai wilayah.

Dalam enam bulan pertama tahun 2025 saja, Meta mengklaim telah menonaktifkan sekitar delapan juta akun yang terlibat dalam aktivitas penipuan daring.

Sebagian besar akun yang ditindak tersebut diketahui beroperasi dari wilayah Asia Tenggara, seperti Myanmar, Kamboja, dan Laos. Selain itu, beberapa jaringan juga ditemukan di Uni Emirat Arab dan Filipina, dengan modus yang bervariasi mulai dari penipuan investasi, bantuan palsu, hingga permintaan uang dengan identitas yang disamarkan.

Baca Juga: Tasya Farasya Pertimbangkan Laporkan Ahmad Assegaf Soal Dugaan Penggelapan Dana di Tengah Proses Cerai

Langkah Meta ini mendapat sambutan positif dari banyak pihak, terutama kelompok pemerhati keamanan digital. Mereka menilai inisiatif tersebut dapat membantu masyarakat yang kerap menjadi sasaran empuk para scammer, terutama pengguna lansia yang sering terjebak dalam percakapan manipulatif atau penipuan berbasis romantika daring (romance scam).

Meski begitu, Meta juga mengakui bahwa sistem deteksi otomatisnya belum sempurna. Ada kemungkinan AI salah menandai pesan atau gagal mengenali modus baru yang lebih halus.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X