INSIBERNEWS - Dunia teknologi kembali dihebohkan dengan kabar pergerakan talenta besar di industri kecerdasan buatan. Salah satu pendiri sekaligus peneliti utama Thinking Machines Lab, Andrew Tulloch, resmi meninggalkan perusahaan yang kini dipimpin mantan CTO OpenAI, Mira Murati.
Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh The Wall Street Journal (WSJ) dan dikonfirmasi oleh pihak Thinking Machines Lab.
Dalam pernyataan resminya, perusahaan menyebut bahwa Tulloch memutuskan mundur karena alasan pribadi, meski enggan menjelaskan lebih jauh detail di balik keputusannya.
Baca Juga: Kepala PAUD di Polewali Mandar Jadi Tersangka Kasus Pencabulan, Polisi: Bukti Lengkap dan Kuat!
“Ia memutuskan untuk menempuh jalan yang berbeda karena alasan pribadi,” kata juru bicara Thinking Machines Lab, dikutip dari TechCrunch.
Pernyataan singkat itu menandai berakhirnya peran salah satu figur penting dalam pengembangan teknologi AI perusahaan tersebut.
Tulloch dikenal sebagai sosok yang berperan besar dalam membangun fondasi riset Thinking Machines Lab, terutama dalam pengembangan model pembelajaran mesin generasi baru yang banyak diadopsi oleh berbagai startup AI di seluruh dunia. Kepergiannya disebut-sebut menjadi kehilangan besar bagi tim riset internal.
Baca Juga: Pemerintah Desak Penegak Hukum Usut Tuntas Kasus Guru Tewas di Yahukimo
Yang menarik, keputusan Tulloch hengkang muncul hanya beberapa pekan setelah muncul rumor bahwa Meta sempat berupaya mengakuisisi Thinking Machines Lab. Upaya itu kabarnya gagal, namun laporan terbaru menyebut bahwa Meta berhasil menarik Tulloch secara pribadi untuk bergabung.
Menurut WSJ, Mark Zuckerberg disebut menawarkan paket kompensasi fantastis senilai hingga 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 24 triliun dengan kontrak enam tahun.
Tawaran tersebut diklaim mencakup saham, tunjangan riset, serta posisi strategis di divisi AI Meta yang tengah memperkuat pengembangan model multimodal dan sistem kecerdasan berbasis open foundation.
Baca Juga: Italia Bantai Israel 3-0, Kans ke Piala Dunia 2026 Kembali Terbuka Lebar
Jika benar, langkah ini memperlihatkan keseriusan Meta dalam memperkuat lini kecerdasan buatannya di tengah kompetisi sengit dengan OpenAI, Anthropic, dan Google DeepMind.
Dalam beberapa bulan terakhir, Meta memang gencar merekrut ilmuwan dan insinyur AI top dunia untuk mempercepat pengembangan Llama, model bahasa besar buatan mereka.
Artikel Terkait
Eks Staf Ahli Polisi Soroti Kasus Narkoba Ammar Zoni: Tuntut Sanksi yang Berat
Berulang Kali Terjerat Kasus Narkoba, Sahabat Lama Ungkap Ammar Zoni Perlu Bantuan Psikiater
Banjir Kritik Usai Gagal Capai Target Piala Dunia, Nasib Patrick Kluivert di Ujung Tanduk?
Waspada! Suhu di Jabodetabek Diprediksi Tembus 32 Derajat Celsius Hari Ini
Trump Umumkan Fase Dua Gencatan Senjata Gaza, Janji Pulangkan Korban dan Bentuk Pemerintahan Baru
Joji Akhirnya Comeback! Rilis Lagu Baru ‘Pixelated Kisses’ Usai Tiga Tahun Menghilang dari Publik
BMKG Ungkap Ada 4 Wilayah di Indonesia Tak Diguyur Hujan Lebih dari Dua Bulan, Apa Saja?
Italia Bantai Israel 3-0, Kans ke Piala Dunia 2026 Kembali Terbuka Lebar
Pemerintah Desak Penegak Hukum Usut Tuntas Kasus Guru Tewas di Yahukimo
Kepala PAUD di Polewali Mandar Jadi Tersangka Kasus Pencabulan, Polisi: Bukti Lengkap dan Kuat!