INSIBERNEWS - Kebiasaan rebahan setelah makan memang terasa nikmat, apalagi saat tubuh lelah atau perut terasa penuh. Namun, di balik kenyamanan sesaat itu, ada sejumlah risiko kesehatan yang jarang disadari. Rebahan terlalu cepat usai makan bisa mengganggu proses pencernaan dan dalam jangka panjang memicu masalah serius pada tubuh.
Saat seseorang langsung berbaring setelah makan, makanan yang baru masuk ke lambung tidak sempat dicerna dengan baik. Posisi tubuh yang horizontal membuat asam lambung lebih mudah naik kembali ke kerongkongan.
Baca Juga: Spotify Hadirkan Fitur DM, Kini Bisa Chat dan Berbagi Lagu Langsung di Aplikasi
Kondisi ini dikenal dengan istilah refluks asam, yang bisa menyebabkan sensasi terbakar di dada atau heartburn. Jika kebiasaan ini terus dibiarkan, risiko terkena penyakit asam lambung (GERD) semakin tinggi.
Selain itu, rebahan setelah makan juga memperlambat proses pencernaan. Tubuh membutuhkan gravitasi untuk membantu makanan bergerak dari lambung menuju usus. Jika langsung berbaring, proses ini melambat dan dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, seperti kembung, begah, dan perut terasa penuh lebih lama.
Baca Juga: Remaja Makin Gandrung Investasi Kripto, Antara Peluang dan Risiko yang Mengintai
Kebiasaan ini juga bisa meningkatkan potensi kenaikan berat badan. Makanan yang tidak tercerna dengan optimal akan lebih mudah disimpan sebagai lemak. Ditambah lagi, saat tubuh dalam posisi rebahan, pembakaran kalori berlangsung lebih lambat. Jika dilakukan secara rutin, risiko obesitas pun meningkat.
Gangguan tidur juga bisa menjadi efek samping lain dari kebiasaan rebahan setelah makan. Asam lambung yang naik ke kerongkongan saat berbaring dapat mengganggu kenyamanan dan memicu batuk atau rasa panas di dada pada malam hari. Akibatnya, kualitas tidur menurun dan tubuh terasa kurang segar keesokan harinya.
Baca Juga: Ribuan Buruh Gelar Aksi Damai Serentak di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Hari Ini
Dalam jangka panjang, refluks asam yang berulang bisa merusak lapisan dinding kerongkongan. Hal ini berpotensi menyebabkan radang esofagus hingga meningkatkan risiko kanker esofagus. Meski terdengar ekstrem, kondisi ini bisa terjadi jika kebiasaan rebahan setelah makan dibiarkan tanpa perubahan gaya hidup.
Agar terhindar dari bahaya tersebut, sebaiknya beri jeda waktu minimal 2–3 jam setelah makan sebelum berbaring atau tidur. Gunakan waktu tersebut untuk beraktivitas ringan, seperti berjalan santai atau melakukan kegiatan ringan yang tidak membebani pencernaan. Dengan begitu, sistem pencernaan dapat bekerja dengan lebih optimal.
Baca Juga: Dari Ojol hingga Wamenaker, Karier Noel Ebenezer Kini Tumbang Usai Jadi Tersangka KPK
Pada akhirnya, meski terlihat sepele, rebahan setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik untuk kesehatan. Mengganti rutinitas ini dengan kebiasaan yang lebih sehat akan membantu tubuh mencerna makanan dengan lebih baik, menjaga berat badan tetap stabil, serta mengurangi risiko penyakit pencernaan di masa depan.
Artikel Terkait
Indro Warkop TanggapI Soal Joget DPR dan Ramai Tunjangan : Mohon Maaf Saya Gak Pernah Milih Mereka
Ashanty Hidupkan Lagi Toko Kuenya, Lumiere Siap Buka 1 September dengan Wajah Baru
Pajak Rokok Mulai Berlaku di Jakarta, Dana Bakal Dialihkan untuk Layanan Publik dan Kesehatan
Polisi Ingatkan Massa Demo Buruh, Jangan Sibuk Live TikTok Demi Gift
Song Da Eun Jadi Sorotan, Rumor Pacaran dengan Jimin BTS Mencuat Lagi
Insentif Mobil Listrik Dinilai Bisa Tekan Industri Otomotif Lokal, Target Produksi Terancam Meleset
Dari Ojol hingga Wamenaker, Karier Noel Ebenezer Kini Tumbang Usai Jadi Tersangka KPK
Ribuan Buruh Gelar Aksi Damai Serentak di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Hari Ini
Penembakan di Gereja Katolik AS Tewaskan Dua Anak, FBI Selidiki Aksi Teror
Korut Balas Sindiran Presiden Korsel, Tegaskan Nuklir Jadi ‘Harga Mati’