INSIBERNEWS - Kebijakan pemerintah yang terus memberikan insentif fiskal untuk kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) dinilai belum sepenuhnya membawa manfaat positif bagi industri otomotif nasional.
Pengamat otomotif sekaligus Peneliti LPEM UI, Riyanto, mengingatkan bahwa langkah ini justru berpotensi melemahkan daya saing pabrikan lokal.
Baca Juga: Song Da Eun Jadi Sorotan, Rumor Pacaran dengan Jimin BTS Mencuat Lagi
Menurutnya, dampak ekonomi dari kebijakan insentif impor mobil listrik lebih banyak dirasakan dari sisi perdagangan semata. Efek berganda atau multiplier effect yang diharapkan, terutama dalam mendorong industri komponen dan ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri, belum terlihat signifikan.
“Utilisasi pabrik di dalam negeri bisa tertekan karena tidak terserap optimal. Target produksi mobil listrik sebesar 400 ribu unit juga bisa tidak tercapai,” ujar Riyanto dalam sebuah diskusi di Jakarta.
Baca Juga: Polisi Ingatkan Massa Demo Buruh, Jangan Sibuk Live TikTok Demi Gift
Ia menilai, keberlanjutan industri otomotif seharusnya tidak hanya mengandalkan impor produk jadi. Sebaliknya, yang lebih penting adalah mendorong tumbuhnya rantai pasok lokal mulai dari produsen baterai, pabrik perakitan, hingga jaringan pendukung lainnya agar bisa memberikan dampak nyata pada perekonomian.
Jika terlalu bergantung pada insentif impor, kata Riyanto, industri otomotif dalam negeri bisa kehilangan momentum untuk berkembang. Padahal, Indonesia memiliki potensi besar sebagai basis produksi kendaraan listrik berkat ketersediaan bahan baku nikel yang melimpah.
Baca Juga: Pajak Rokok Mulai Berlaku di Jakarta, Dana Bakal Dialihkan untuk Layanan Publik dan Kesehatan
“Kalau kita terlalu lama mengandalkan produk impor, dikhawatirkan ekosistem yang ada tidak berkembang. Padahal peluang Indonesia menjadi pemain besar di industri kendaraan listrik dunia terbuka lebar,” tambahnya.
Selain itu, insentif fiskal yang tidak diiringi strategi industri yang jelas juga berpotensi menekan pabrikan otomotif konvensional yang masih dominan memproduksi kendaraan berbahan bakar fosil. Jika kondisi ini terus berlanjut, ketidakseimbangan pasar bisa membuat ribuan tenaga kerja di sektor otomotif lokal terdampak.
Baca Juga: Indro Warkop TanggapI Soal Joget DPR dan Ramai Tunjangan : Mohon Maaf Saya Gak Pernah Milih Mereka
Riyanto menekankan perlunya kebijakan yang lebih terarah, bukan sekadar memberi keringanan pajak bagi mobil listrik impor. Pemerintah, menurutnya, harus menyiapkan roadmap yang jelas agar insentif benar-benar menjadi katalisator tumbuhnya industri otomotif ramah lingkungan di tanah air.
Dengan arah kebijakan yang lebih menyeluruh, insentif kendaraan listrik diharapkan tidak hanya menjadi gimmick pasar, tetapi benar-benar menjadi pintu masuk menuju era transisi energi yang sehat sekaligus memperkuat posisi Indonesia di kancah global.
Artikel Terkait
Alessandro Florenzi Gantung Sepatu, Akhiri Karier Panjang di Usia 34 Tahun
Kang Daniel Didenda Bayar Rp47 Miliar, Kasus Konser Bikin Kontroversi di Korea Selatan
PK Silfester Matutina Gugur, Hakim Sebut Alasan Mangkir Tak Jelas
Pemerintah Siapkan Langkah Tegas Atasi Kelangkaan BBM di SPBU Swasta
Usai Viral Nafa Urbach Dukung Soal Tunjangan DPR, Kini Ia Janji Akan Alokasi Gaji dan Tunjangannya Untuk Masyarakat dan Guru
Indro Warkop TanggapI Soal Joget DPR dan Ramai Tunjangan : Mohon Maaf Saya Gak Pernah Milih Mereka
Ashanty Hidupkan Lagi Toko Kuenya, Lumiere Siap Buka 1 September dengan Wajah Baru
Pajak Rokok Mulai Berlaku di Jakarta, Dana Bakal Dialihkan untuk Layanan Publik dan Kesehatan
Polisi Ingatkan Massa Demo Buruh, Jangan Sibuk Live TikTok Demi Gift
Song Da Eun Jadi Sorotan, Rumor Pacaran dengan Jimin BTS Mencuat Lagi