Benarkah Rasa Lapar Bisa 'Makan' Sel Berbahaya dalam Tubuh? Ini Penjelasannya

Photo Author
- Kamis, 19 Juni 2025 | 08:48 WIB
Ilustrasi Rasa Lapar
Ilustrasi Rasa Lapar

INSIBERNEWS - Belakangan, muncul anggapan bahwa rasa lapar bisa membantu tubuh "memakan" sel-sel berbahaya, termasuk sel kanker. Klaim ini sering dikaitkan dengan praktik puasa atau gaya hidup yang menahan makan dalam durasi tertentu. Tapi, apakah hal ini benar-benar terbukti secara ilmiah atau hanya sekadar mitos yang dibesar-besarkan?

Baca Juga: WhatsApp Tinggalkan HP Jadul Mulai Juni 2025: Cek Daftar Ponsel yang Terdampak!

Dalam dunia medis, ada istilah yang dikenal sebagai autofagi. Ini adalah proses alami tubuh untuk membersihkan diri dari sel-sel rusak, termasuk protein atau komponen sel yang tidak lagi berfungsi.

Autofagi bisa diaktifkan ketika tubuh dalam kondisi "stress ringan", seperti saat berpuasa atau tidak makan selama beberapa jam. Proses ini membantu tubuh menjaga kesehatan sel dan jaringan.

Baca Juga: Jadi Pengingat! Ini 5 Hal yang Perlu Kamu Terapkan Setiap Hari agar Tak Tertular Covid-19 Lagi

Beberapa penelitian awal, termasuk yang dilakukan oleh peraih Nobel Yoshinori Ohsumi, menunjukkan bahwa autofagi memang punya potensi besar dalam mengurangi risiko berbagai penyakit, termasuk kanker.

Saat tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dalam jangka waktu tertentu, ia mulai "memakan" bagian-bagian sel yang rusak—yang bisa termasuk sel abnormal yang berpotensi berkembang jadi kanker.

Baca Juga: Benarkah Teh Hijau Bikin Langsing? Ini Fakta Ilmiahnya yang Jarang Diketahui!

Namun, penting diingat bahwa meski proses ini nyata dan terbukti secara ilmiah, tidak berarti rasa lapar secara langsung bisa "membunuh" kanker.

Autofagi lebih bersifat pencegahan atau pengendalian, bukan pengobatan utama. Selain itu, efeknya sangat tergantung pada durasi, pola makan, kondisi tubuh, dan faktor genetik seseorang.

Baca Juga: Turun Berat Badan dengan Ubi Cilembu? Begini Cara Aman dan Efektifnya!

Jadi, bisa disimpulkan bahwa rasa lapar atau puasa bisa memberi manfaat kesehatan melalui proses autofagi, yang membantu membersihkan sel-sel tak berguna atau berbahaya dalam tubuh.

Namun, ini bukan obat mujarab untuk semua penyakit, dan bukan pengganti pengobatan medis yang sudah terbukti seperti kemoterapi atau terapi target.

Baca Juga: Cacing Tanah Rebus untuk Tipes, Mitos atau Fakta? Yuk Cari Tahu!

Halaman:

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X