Jarak pandang yang terbatas, hanya 3 hingga 8 kilometer, juga menambah kompleksitas misi.
“Kami harus memahami dulu karakteristik arus di lokasi. Ini soal keselamatan penyelam sekaligus efektivitas pencarian,” ungkap Ribut dengan nada penuh tekad.
Baca Juga: Gulung Tikar Setelah 30 Tahun, PT Sanken Indonesia PHK Massal Karyawan Per 1 Juli
Tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban yang terus menanti kepastian. Di tepi Pelabuhan Ketapang, isak tangis dan doa-doa menggema, berharap agar orang-orang terkasih mereka segera ditemukan. Meski begitu, semangat tim SAR tak pernah pudar.
Dengan peralatan terbaik dan koordinasi lintas instansi, mereka berpacu dengan waktu, berjuang melawan arus dan gelombang demi membawa pulang jawaban bagi keluarga yang menunggu.
Baca Juga: PT Shankara Akuisisi Saham Jagonya Ayam: Strategi Baru Keluarga Haji Isam
Di tengah tantangan teknis dan kondisi laut yang tak menentu, operasi ini menjadi bukti nyata dedikasi tim SAR. Dukungan dari masyarakat dan berbagai pihak, termasuk TNI dan otoritas setempat, terus mengalir, memperkuat upaya pencarian.
Harapan masih menyala di Selat Bali, dan setiap detik yang berlalu adalah langkah menuju kebenaran yang dinanti, baik itu reuni penuh air mata atau penutup yang penuh makna bagi mereka yang kehilangan.