INSIBERNEWS – Konser yang seharusnya menjadi ruang ekspresi, justru kembali menjadi tempat luka bagi penyanyi muda Nadin Amizah.
Dalam penampilannya di acara Pasar Senggol yang digelar di Mall Summarecon Bekasi, Jawa Barat, Jumat malam (4/7/2025), Nadin mengungkapkan bahwa dirinya menjadi korban pelecehan fisik oleh penonton di tengah kerumunan.
Keesokan harinya, Sabtu (5/7), pelantun lagu Bertaut dan Rumpang itu mencurahkan kesedihannya melalui Instagram @cakecaine.
Baca Juga: Taemin SHINee Dikecam Usai Beri Komentar Kontroversial Tentang Ramalan Gempa Jepang
Ia menuliskan bagaimana tubuhnya kembali disentuh tanpa izin oleh seseorang di antara penonton, menyisakan trauma dan kemarahan yang mendalam.
"Malam ini terjadi lagi. Tubuh aku yang sangat aku jaga, kesentuh orang. Rasanya marah banget ke diri sendiri, karena kok kejadian lagi, ya," tulis Nadin, sembari membagikan potret dirinya dalam kondisi menangis.
Bagi Nadin Amizah, tubuh bukan sekadar fisik, melainkan ruang sakral yang selama ini ia jaga dengan sangat hati-hati sebagaimana ia menjaga setiap nada dan lirik yang ia nyanyikan.
Baca Juga: Absen di Pemakaman Diogo Jota, Cristiano Ronaldo Dituding Tak Berempati
Kariernya yang dimulai sejak usia remaja tak lepas dari narasi personal yang jujur.
Lewat karya-karyanya, Nadin berbicara tentang tubuh, luka, dan ruang untuk pulih tema-tema yang kini terasa begitu ironis ketika ia sendiri kembali menjadi korban kekerasan fisik di ruang publik.
Sejak pertama kali dikenal melalui kolaborasi dengan Dipha Barus dalam lagu All Good (2017), Nadin tumbuh menjadi musisi yang membawa warna baru dalam musik Indonesia.
Baca Juga: Bertumbuh dan Naik Kelas Bersama BRI, UMKM Teh Asal Bogor Sukses Tembus Pasar Global
Album debutnya Selamat Ulang Tahun (2020) serta lanjutan Untuk Dunia, Cinta, dan Kotornya membuktikan bahwa ia tak hanya penyanyi, tapi penyair dalam bentuk lain.
Musiknya bicara tentang kerentanan, cinta, dan keberanian menjadi perempuan yang utuh yang kini lagi-lagi diuji oleh pengalaman traumatis.
Dalam unggahan tersebut, Nadin juga mengecam perilaku penonton yang memaksa mendekat hingga mendorong tim dan barikade pengamanan yang sudah disiapkan.
Baca Juga: Meneliti Jejak Hidup Bangsa Persia Kuno di Era Modern Negara Iran
"I'm so disappointed in you guys, dorong-dorong, ngerubungin aku dan tim padahal udah dibarikadein sama tim keamanan, tapi tetep chaos," tulisnya penuh kecewa.
Acara Pasar Senggol sendiri merupakan festival tahunan yang digelar di Mall Summarecon Bekasi, sebuah pusat perbelanjaan besar dan modern yang rutin menyelenggarakan acara musik, kuliner, dan hiburan keluarga.
Dengan daya tarik ribuan pengunjung tiap malam, acara ini menjadi magnet keramaian di wilayah Bekasi dan sekitarnya.
Baca Juga: Rumah Tangga Chikita Meidy di Ujung Tanduk, Diduga Lempar Botol ke Suami
Namun, skala besar dan antusiasme tinggi rupanya belum diimbangi dengan sistem pengamanan yang maksimal, terlebih saat artis perempuan tampil di tengah kerumunan yang sulit dikendalikan.
Insiden ini membuka kembali diskusi tentang perlunya ruang aman di industri hiburan, khususnya bagi perempuan.
Bukan hanya di balik layar, tetapi juga di atas panggung, tempat di mana seorang musisi harusnya bisa merasa terlindungi saat memberi karya.
Baca Juga: Viral Rumahnya Digeruduk Massa, ‘Mas Pelayaran’ yang Diduga Aniaya Driver ShopeeFood Minta Maaf
Nadin menyebut bahwa tindakan itu membuatnya merasa jijik dengan tubuhnya sendiri.
Ungkapan emosional ini bukan sekadar luapan kemarahan, tapi peringatan nyata bahwa masih banyak yang perlu dibenahi dalam penyelenggaraan acara musik di ruang terbuka, terlebih ketika melibatkan massa yang besar.
"Feel so dirty in my own body. You guys are not fans," tambahnya.
Baca Juga: Romantisasi Hubungan Guru dan Murid SD, Adaptasi Drama 'My Beloved Elementary School Student' Picu Amarah Publik
Sebagai musisi yang tumbuh dari kejujuran dan pengalaman pribadi, Nadin Amizah telah lama menyuarakan keresahan perempuan lewat lagu-lagunya.
Tapi kini, suaranya bukan lagi sekadar metafora dalam musik melainkan jeritan nyata dari seorang perempuan yang terluka oleh sikap abai sebagian penonton.
Apa yang dialami Nadin bukan sekadar insiden konser. Ini adalah pengingat keras bahwa bahkan ruang seni pun belum tentu aman bagi perempuan.
Baca Juga: Isu Limbah Radioaktif di Laut Kuning: Pemerintah Korea Selatan Pastikan Level Radiasi Masih Normal
Juga cinta terhadap artis tidak bisa dijustifikasi dengan perilaku menyentuh tanpa izin atau menyerobot ruang pribadi.
Dalam dunia yang semakin terbuka dan digital, semestinya kesadaran akan batas tubuh dan rasa hormat ikut tumbuh bersama.
Artikel Terkait
Viral Rumahnya Digeruduk Massa, ‘Mas Pelayaran’ yang Diduga Aniaya Driver ShopeeFood Minta Maaf
Rumah Tangga Chikita Meidy di Ujung Tanduk, Diduga Lempar Botol ke Suami
Meneliti Jejak Hidup Bangsa Persia Kuno di Era Modern Negara Iran
Bertumbuh dan Naik Kelas Bersama BRI, UMKM Teh Asal Bogor Sukses Tembus Pasar Global
Absen di Pemakaman Diogo Jota, Cristiano Ronaldo Dituding Tak Berempati
Taemin SHINee Dikecam Usai Beri Komentar Kontroversial Tentang Ramalan Gempa Jepang