PBB Ajukan Permohonan Dana $500 Juta untuk Mendukung Hak Asasi Manusia Global: Komisaris Tinggi PBB Peringatkan Bahaya Kekurangan Dana untuk HAM

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Jumat, 31 Januari 2025 | 14:32 WIB
Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk (foto: Istimewa)
Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk (foto: Istimewa)

INSIBERNEWS - Pada 30 Januari 2025, Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk, mengajukan permohonan dana sebesar $500 juta untuk mendukung misi penting PBB dalam memantau dan menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia di berbagai belahan dunia.

Dari Suriah hingga Sudan, tantangan besar terhadap hak-hak dasar manusia terus meningkat, dan Turk mengingatkan bahwa tahun 2025 diperkirakan tidak akan membawa pengurangan dalam krisis-krisis tersebut.

Dana Kritis yang Dibutuhkan untuk Menyelamatkan Nyawa dan Melindungi Hak Asasi Manusia

Pernyataan Turk dalam pidatonya di Jenewa memberikan gambaran suram tentang situasi global. Dengan kekurangan dana yang terus-menerus melanda kantor hak asasi manusia PBB, ia menegaskan pentingnya pencapaian target pendanaan ini. Tanpa pendanaan yang cukup, banyak hal penting yang akan terhambat, mulai dari penahanan ilegal, kebijakan diskriminatif yang dibiarkan tanpa tindakan, hingga pembela hak asasi manusia yang kehilangan perlindungan.

"Saya sangat khawatir jika kita tidak mencapai target pendanaan pada tahun 2025, kita akan membiarkan masyarakat... berjuang dan mungkin gagal, tanpa dukungan yang memadai," tegas Turk, menambahkan bahwa nyawa manusia kini menjadi taruhan utama dalam ketidakpastian ini.

 Baca Juga: Skandal Pelecehan Seksual Pendeta di Cebu dan Reaksi Uskup Agung: Gereja di Filipina Terpaksa Hadapi Tuduhan yang Mengguncang Kepercayaan Masyarakat

Kekurangan Dana yang Mengancam Tugas PBB dalam Memerangi Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Kantor hak asasi manusia PBB mendapat sekitar 5% dari anggaran rutin PBB, namun sebagian besar dananya berasal dari sumbangan sukarela. Permohonan tahunan ini bertujuan untuk menutup kekurangan dana yang semakin parah, yang dapat diperburuk oleh kebijakan luar negeri yang berubah, seperti yang terjadi pada era pemerintahan Presiden Donald Trump dengan pemotongan dana bantuan luar negeri.

Pada tahun 2024, negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat yang menyumbang sekitar $35 juta, menjadi kontributor terbesar. Namun, meskipun permohonan tahun lalu mencapai $500 juta, kantor tersebut hanya menerima setengah dari jumlah yang diminta, sebuah ketimpangan yang berpotensi menghambat pelaksanaan misi-misi hak asasi manusia yang sangat mendesak.

Pentingnya Sumber Daya untuk Membela Hak Asasi Manusia di Seluruh Dunia

Bila tidak ada tambahan dana yang cukup, PBB akan kesulitan untuk mengawasi pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di berbagai negara. Tanpa dana yang memadai, pekerjaan mereka dalam mendokumentasikan dan melaporkan kasus-kasus penyiksaan, penahanan ilegal, dan pelanggaran lainnya dapat terganggu, yang pada akhirnya merugikan mereka yang paling membutuhkan perlindungan.

Sama pentingnya, tanpa dukungan keuangan yang memadai, akan semakin sulit bagi pembela hak asasi manusia untuk melakukan tugas mereka tanpa rasa takut akan pembalasan atau penindasan lebih lanjut. Turk menegaskan bahwa situasi ini bukan hanya soal angka atau anggaran; ini soal menyelamatkan nyawa, melindungi individu yang rentan, dan memastikan bahwa pelanggaran hak asasi manusia tidak luput dari perhatian dunia.

 Baca Juga: Ketegangan di Gaza: Hamas Bebaskan Sandera, Israel Mulai Lepaskan Tahanan Palestina, Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Tantangan Global yang Tidak Mungkin Diabaikan

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X