"Ini menjadi pelajaran bagi seluruh jajaran bahwa bekerja dalam Program MBG tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki etika, empati, sensitivitas dan tanggung jawab dalam berkomunikasi," ujarnya.
Setiap kejadian yang berkaitan dengan keamanan pangan harus menjadi perhatian seluruh pihak yang terlibat dalam program MBG.
Ketika terdapat masyarakat maupun penerima manfaat yang diduga terdampak persoalan keamanan pangan, jajaran SPPG diminta mengedepankan rasa kemanusiaan dan empati.
Baca Juga: Gebrakan Suahasil Nazara, Rombak Eselon II dan KSSK hingga Gandeng Danantara Demi Stabilitas Ekonomi
Kondisi tersebut tidak semestinya dijadikan bahan candaan maupun olok-olok.
Selain persoalan etika, Gagat turut mengingatkan seluruh personel SPPG agar lebih berhati-hati ketika menggunakan media sosial maupun menyampaikan pernyataan di ruang publik.
Menurut dia, pernyataan yang dibuat oleh seorang personel SPPG berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap penyelenggaraan program MBG secara keseluruhan.
Baca Juga: Titik Api Sulit Dijangkau Air, Kucuran Dana Rp60 Miliar Diharap Jadi Solusi Atasi Karhutla Kalbar
Karena itu, setiap anggota SPPG diminta menjaga sikap, komunikasi, serta profesionalitas saat menjalankan tugas, termasuk ketika beraktivitas di media sosial.
Kasus pegawai SPPG Bantul ini pun menjadi pengingat bahwa pelaksanaan program MBG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bergizi, tetapi juga menuntut tanggung jawab, empati, dan kehati-hatian dari seluruh pihak yang terlibat. ***
Artikel Terkait
Aksi Dramatis Penyelam BSG Pecahkan Kaca Virgo Transport 8, Basarnas Perpanjang Pencarian 125 Korban
Jalur Ilegal Terendus, Polda NTT Gagalkan Penyelundupan Manusia ke Australia
Viral Pria Tendang Perempuan hingga Jatuh di Food Court, Kini Jadi Tersangka
Skandal Korupsi ATR BPN Memanas, Giliran Kantor Summarecon Bogor Digeledah KPK
Houthi Kembali Memanas dengan Arab Saudi, AS Tegaskan Tak Ikut Serang