INSIBERNEWS - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat masih menjadi ancaman krisis lingkungan yang menyita perhatian nasional hingga Presiden Prabowo.
Merujuk data terbaru Kementerian Kehutanan per Minggu (20/9/2026), sebaran titik panas perlahan mulai menyusut menjadi 98 titik dari sebelumnya 107.
Meski menunjukkan tren perbaikan, perjuangan para petugas dan relawan di lapangan masih jauh dari kata usai akibat rentetan rintangan teknis yang mengadang.
Baca Juga: Gebrakan Suahasil Nazara, Rombak Eselon II dan KSSK hingga Gandeng Danantara Demi Stabilitas Ekonomi
Salah satu arena pertarungan terberat bagi tim gabungan berada di Desa Sejahtera, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara.
Di lokasi ini, kobaran api dengan cepat melahap area perkebunan karet milik warga yang kebetulan berbatasan langsung dengan rimbunnya rumpun bambu kering.
Tim Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan yang diterjunkan ke titik tersebut harus memutar otak ekstra keras menghadapi minimnya fasilitas pendukung di tengah medan yang menguras tenaga.
"Titik api memakan karet, perkebunan area milik warga masyarakat. Cuma, kami di sini keterbatasan untuk mengejar ke sumber air, sangat-sangat jauh. Selang yang kami miliki juga tidak terjangkau. Namun, kami tetap mengupayakan bisa tetap dikendalikan," ungkap Nasir, salah satu punggawa Manggala Agni yang videonya diunggah oleh akun Threads @awigati.
Kondisi yang tak kalah pelik turut dirasakan oleh regu pemadam di kawasan konservasi Bukit Peramas, Taman Nasional Gunung Palung.
Memasuki hari ketujuh operasi pemadaman darat, tim gabungan masih tertahan oleh keterbatasan logistik, terutama rentang selang air yang tidak mampu menjangkau titik pusat kobaran api.
Sebagai taktik darurat, para petugas terpaksa memfokuskan tenaga untuk melakukan bloking dengan cara membasahi vegetasi di sekeliling area terbakar.
"Mohon bagi semua pihak, kami di sini dalam keadaan kekurangan selang, sehingga untuk memadamkan api di sana, kami tidak sampai. Jadi, kami hanya membasahi area sekitar agar api tidak merambat ke sini," sebut seorang petugas damkar di Bukit Peramas dalam cuplikan video terpisah.
Merespons krisis alat yang membahayakan ekosistem dan masyarakat ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat akhirnya mengucurkan Belanja Tidak Terduga (BTT) senilai Rp60 miliar pada Perubahan APBD 2026.
Anggaran taktis ini merupakan hasil patungan dari kas daerah sebesar Rp20 miliar dan suntikan pusat senilai Rp40 miliar.
Dana jumbo tersebut diproyeksikan untuk memborong alat pelindung diri, armada tempur, mesin pompa, selang tambahan, pembuatan sumur bor, hingga penyewaan ekskavator.
"Bantuan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan penanganan karhutla. Dukungan anggaran yang telah disiapkan pemerintah daerah dan bantuan dari pusat harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat penanganan di lapangan serta melindungi masyarakat," tegas Gubernur Kalbar Ria Norsan pada Jumat (18/9/2026) lalu, terkait pemanfaatan dana yang juga mencakup urusan logistik, teknik suntik gambut, dan layanan medis korban kabut asap.(*)
Artikel Terkait
Kasus Vape Etomidate Seret Selebgram Jule, Ditangkap Polisi di Apartemen Jaksel
Kronologi Jule Diamankan Polisi, Berawal dari Penangkapan 2 Bandar Vape Etomidate
Terungkap! ASN PPPK di Bandung Diduga Jadikan Rumah sebagai Ladang Ganja
Nahas! Kakek 78 Tahun di Cirebon Tewas Terbakar Saat Bersihkan Rumput Kering di Kebunnya
Gebrakan Suahasil Nazara, Rombak Eselon II dan KSSK hingga Gandeng Danantara Demi Stabilitas Ekonomi