Ratusan Tokoh Dunia Serukan Hentikan Pengembangan Super AI, Khawatir Ubah Masa Depan Umat Manusia

Photo Author
- Jumat, 24 Oktober 2025 | 08:32 WIB
Ilustrasi - Pengembangan Super AI yang ternyata banyak ditolak tokoh dunia (Foto : Freepik)
Ilustrasi - Pengembangan Super AI yang ternyata banyak ditolak tokoh dunia (Foto : Freepik)

INSIBERNEWS - Gelombang kekhawatiran terhadap kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) kembali mencuat. Ratusan tokoh berpengaruh dunia — mulai dari ilmuwan, mantan pejabat militer, seniman, hingga anggota keluarga kerajaan Inggris — menandatangani sebuah pernyataan terbuka yang menyerukan pelarangan pengembangan kecerdasan buatan super (superintelligence atau Super AI).

Langkah ini diprakarsai oleh Future of Life Institute (FLI), sebuah lembaga nirlaba internasional yang selama ini dikenal aktif mendorong pengembangan teknologi secara etis dan aman.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Kamis (23/10/2025), FLI menegaskan bahwa setiap bentuk penelitian atau pengembangan AI super harus dihentikan sepenuhnya hingga dunia ilmiah mencapai kesepakatan global mengenai cara pengawasan yang aman.

Baca Juga: Raisa Gugat Cerai Hamish Daud, Rumor Kontroversi dan Isu Gelap Suami Mulai Terungkap

“Larangan ini tidak boleh dicabut sebelum ada konsensus ilmiah yang jelas bahwa Super AI dapat dikendalikan dan digunakan tanpa mengancam umat manusia,” demikian isi surat tersebut.

Lebih dari 800 tokoh terkenal disebut telah menandatangani dokumen ini. Di antara nama-nama itu terdapat Geoffrey Hinton, salah satu pionir kecerdasan buatan yang juga dikenal sebagai “Godfather of AI”, serta pasangan Pangeran Harry dan Meghan Markle yang ikut menyuarakan keprihatinan terhadap dampak sosial dan moral dari perkembangan teknologi tersebut.

Baca Juga: Heboh! Kasus Pelecehan Kepala SPPG di Bekasi, Korban Curhat Hari Senin Dilarang Berkerudung

Para peneliti yang terlibat dalam inisiatif ini menilai, perkembangan AI dalam dua tahun terakhir berlangsung terlalu cepat dan tanpa regulasi yang memadai.

Mereka khawatir, jika AI berkembang hingga mencapai tingkat kecerdasan yang melampaui manusia, sistem itu bisa bertindak di luar kendali dan menimbulkan risiko yang tak terprediksi — mulai dari penyalahgunaan data, manipulasi informasi, hingga potensi konflik global.

Kekhawatiran ini bukan hal baru. Sejak 2023, beberapa tokoh besar seperti Elon Musk, Yuval Noah Harari, dan Sam Altman juga sempat menyerukan penghentian sementara pengembangan sistem AI berskala besar.

Namun kali ini, desakan yang muncul bersifat lebih tegas dan global, karena melibatkan berbagai kalangan di luar dunia teknologi, termasuk seniman, pemimpin agama, hingga aktivis lingkungan.

Baca Juga: Pabrik Limbah B3 di Karawang Ludes Terbakar, Api Sulit Dijinakkan Sejak Malam

Selain aspek keamanan, banyak penandatangan surat ini juga menyoroti dampak sosial dan ekonomi yang bisa terjadi akibat revolusi AI.

Pekerjaan manusia dalam berbagai sektor berisiko tergantikan, sementara ketimpangan teknologi antara negara maju dan berkembang dapat semakin melebar. Hal ini dikhawatirkan menciptakan ketidakstabilan ekonomi global yang sulit dikendalikan.

Halaman:

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X