INSIBERNEWS - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menekankan urgensi literasi data di kalangan masyarakat Indonesia, terutama yang aktif di media sosial. Ia menilai kemampuan membaca dan memahami data statistik masih belum merata.
Amalia menyoroti fenomena banyak warganet yang mengomentari statistik BPS, namun interpretasi yang diberikan seringkali tidak akurat. Hal ini dapat menimbulkan miskomunikasi atau persepsi yang keliru terkait data resmi pemerintah.
Baca Juga: Pajak Kripto dan Fintech Dorong Penerimaan Digital Indonesia Capai Rp40 Triliun
Pernyataan tersebut disampaikan Amalia saat menghadiri rapat dengar pendapat bersama Komisi X DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa, 26 Agustus 2025. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menekankan pentingnya edukasi statistik.
“Misalnya ketika masyarakat membaca berita tentang garis kemiskinan, banyak yang salah paham dan mengira angka tersebut diturunkan secara literal, padahal konteksnya lebih kompleks,” ujar Amalia. Ia menekankan pentingnya memahami definisi, metodologi, dan konteks data sebelum menarik kesimpulan.
Baca Juga: Puan Maharani Dukung Subsidi LPG 3 Kg Terkoneksi NIK, Tekankan Pentingnya Distribusi Tepat Sasaran
Amalia menambahkan, literasi statistik tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat umum, tetapi juga bagi media, akademisi, dan pembuat kebijakan. Pemahaman yang tepat memungkinkan semua pihak menggunakan data untuk pengambilan keputusan yang lebih akurat dan efektif.
Selain itu, BPS terus berupaya menyederhanakan penyajian data agar lebih mudah dipahami. Misalnya, melalui infografis, visualisasi interaktif, dan publikasi berbasis digital yang bisa diakses masyarakat luas tanpa memerlukan keahlian statistik mendalam.
Baca Juga: Dukung Rencana Bahlil Beli Gas LPG 3 Kg Pakai NIK, Puan Pastikan DPR Bakal Lakukan Pengawasan
Kepala BPS juga menekankan peran pemerintah dan lembaga pendidikan dalam meningkatkan literasi data. Edukasi sejak dini mengenai cara membaca dan menafsirkan data diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang kritis, bijak, dan tidak mudah terpengaruh informasi salah.
Dalam era digital seperti sekarang, informasi tersebar cepat melalui berbagai platform. Menurut Amalia, literasi data menjadi benteng agar masyarakat tidak salah menafsirkan statistik dan tetap mampu berdiskusi berdasarkan fakta.
Baca Juga: Bahaya Rebahan Setelah Makan, Kebiasaan Sepele yang Bisa Merugikan Kesehatan
Amalia menutup pernyataannya dengan mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati dan cermat dalam memahami data.
“Memahami data itu bukan sekadar angka, tapi juga konteks dan maknanya. Dengan literasi statistik yang baik, kita bisa berdiskusi dan mengambil keputusan lebih tepat,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Dari Ojol hingga Wamenaker, Karier Noel Ebenezer Kini Tumbang Usai Jadi Tersangka KPK
Ribuan Buruh Gelar Aksi Damai Serentak di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Hari Ini
Penembakan di Gereja Katolik AS Tewaskan Dua Anak, FBI Selidiki Aksi Teror
Korut Balas Sindiran Presiden Korsel, Tegaskan Nuklir Jadi ‘Harga Mati’
Bahaya Rebahan Setelah Makan, Kebiasaan Sepele yang Bisa Merugikan Kesehatan
Prabowo Dukung Rencana Bank Genetik, Luhut Soroti Pentingnya Jaga Kekayaan Hayati Indonesia
Mahfud MD Soroti Korupsi dan Syarat Hukuman Mati di Indonesia
Dukung Rencana Bahlil Beli Gas LPG 3 Kg Pakai NIK, Puan Pastikan DPR Bakal Lakukan Pengawasan
Puan Maharani Dukung Subsidi LPG 3 Kg Terkoneksi NIK, Tekankan Pentingnya Distribusi Tepat Sasaran
Pajak Kripto dan Fintech Dorong Penerimaan Digital Indonesia Capai Rp40 Triliun