Apa Itu Fenomena Bediding? Cuaca yang Sedang Terjadi di Pulau Jawa Menyebabkan Malam Hari Dingin di Tengah Kemarau

Photo Author
Novia R., Insibernews
- Jumat, 19 Juli 2024 | 10:36 WIB
Ilustrasi fenomena bediding (Istimewa)
Ilustrasi fenomena bediding (Istimewa)

INSIBERNEWSSaat ini daerah di Pulau Jawa sedang mengalami cuaca dingin di tengah musim kemarau. Cuaca seperti ini biasanya disebut dengan fenomena bediding.

Fenomena bediding umumnya sedang terjadi di Pulau Jawa, salah satunya di Yogyakarta. Orang-orang akan mengalami suhu dingin khususnya di malam hari.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengumumkan suhu udara dingin minimum atau bediding hingga mencapai 18,8 deratajat celcius.

Baca Juga: Ayo Buruan Nanti Kehabisan, Ini Cara Dapatkan Tiket Pertunjukan Air Mancur Sri Baduga Purwakarta

Lantas apa itu fenomena bediding? Simak artikel selengkapnya.

Apa itu Fenomena Bediding?

Melansir dari berbagai sumber, fenomena bediding adalah fenomena ketika suhu terasa dingin pada musim kemarau. Istilah ini berasal dari kata dalam bahasa Jawa, "bedhidhing" yang artinya terasa dingin.

Fenomena bediding bukanlah hal yang baru. Berdasarkan sudut pandang klimatologi, fenomena ini berhubungan dengan kondisi atmosfer.

Adapaun fenomena bediding disebabkan karena tutupan awan yang berkurang saat kemarau karena kurangnya hujan. Oleh karena itu, panas permukaan bumi yang disebabkan radiasi matahari jadi lebih cepat dan lebih banyak dilepaskan kembali ke atmosfer berupa radiasi balik gelombang panjang.

Baca Juga: Terkuak! Ini Kronologi Kecelakaan Tunggal yang Menewaskan Dali Wassink

Curah hujan yang kurang ini dapat membuat kelembapak udara yang rendah sehingga uap air di dekat permukaan bumi pun sedikit. 

Dikutip dari Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan, bersamaan dengan kondisi langit yang cenderung bersih dari awan, maka panas radiasi balik gelombang panjang itu pun langsung dilepas ke atmosfer luar. Inilah mengapa kemudian udara dekat permukaan terasa lebih dingin, khususnya pada malam hingga pagi hari.

Kondisi ini umum terjadi di wilayah Indonesia di dekat khatulistiwa hingga bagian utara. Di wilayah ini, walaupun pagi hari lebih dingin, siang hari udara terasa lebih panas. Hal itu disebabkan ketiadaan awan dan kurangnya uap air ketika kemarau menyebabkan radiasi langsung matahari lebih banyak yang mencapai permukaan bumi.

Editor: Novia R.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X