Awas! Sering Konsumsi Pemanis Buatan Terbukti Bikin Otak Menua 1,6 Kali Lebih Cepat

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Kamis, 11 September 2025 | 07:05 WIB
Foto Ilustrasi Gula Pasir (pixabay)
Foto Ilustrasi Gula Pasir (pixabay)

INSIBERNEWS - Pemanis buatan biasanya menjadi pilihan bagi sebagian orang yang ingin menghindari bahaya kesehatan dari konsumsi gula murni.

Seperti yang diketahui, pemanis buatan ini merupakan zat sintetik atau turunan alami yang digunakan untuk memberi rasa manis di makanan atau minuman.

Jika dibandingkan dengan gula biasa, pemanis buatan memiliki kalori yang lebih sedikit bahkan tanpa kalori.

Baca Juga: Eza Gionino Akhirnya Buka Suara Soal Gugatan Cerai Istri, Singgung Masalah Komunikasi

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Neurology mengungkapkan risiko yang mengkhawatirkan dari pemanis buatan ini meski dianggap sehat karena merupakan pengganti gula rendah kalori.

Pemanis buatan diketahui memiliki efek samping, yakni mempercepat penuaan kesehatan kognitif.

Berdasarkan studi ini melacak lebih dari 12.700 orang dewasa selama delapan tahun, mengkonsumsi pemanis seperti aspartam, sakarin, asesulfam-K, eritritol, xilitol, sorbitol, dan tagatosa.

Baca Juga: Luhut Yakin Menkeu Baru Purbaya Mampu Dorong Pertumbuhan Ekonomi RI

Pemanis buatan kerap ditemukan dalam makanan yang dianggap ‘sehat‘, seperti yoghurt, air beraroma, soda diet, dan makanan penutup rendah kalori.

Studi ini membandingkannya dengan soda diet tunggal dan menekankan bahwa orang yang mengonsumsi paling banyak, kira-kira sebanyak soda diet setiap hari, mengalami penurunan kognitif 62 persen lebih cepat.

Dengan kata lain, otak mengalami penuaan 1,6 tahun lebih cepat dari yang seharusnya.

Baca Juga: Menhan Sjafrie Pilih Tak Ikut Campur Kasus Brigjen Juinta vs Aktivis Ferry Irwandi

Pemanis buatan mungkin tidak mengandung kalori sebanyak gula biasa, tetapi bukan berarti pemanis buatan bebas risiko.

Oleh karena itu, harus pandai memilah apa yang terbaik untuk kesehatan tubuh karena kesehatan menjadi investasi jangka panjang.

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X