Darah Biru Kepiting Tapal Kuda Jadi Kunci Uji Vaksin, Harganya Capai Ratusan Juta per Liter!

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Minggu, 29 Juni 2025 | 00:09 WIB
Proses pengambilan darah biru kepiting tapal kuda (Istimewa)
Proses pengambilan darah biru kepiting tapal kuda (Istimewa)



INSIBERNEWS – Kepiting tapal kuda atau Horseshoe crab merupakan spesies purba yang telah menghuni bumi selama lebih dari 400 juta tahun.

Kepiting tapal kuda sering dijuluki "fosil hidup" karena telah eksis selama jutaan tahun, bentuk tubuh mereka nyaris tidak berubah, menunjukkan efisiensi evolusi mereka.

Cangkang kepiting berdarah biru ini keras berbentuk tapal kuda, yang melindungi tubuh bagian atas.

Baca Juga: Demi Latih AI, Jutaan Buku Dirusak: Inovasi atau Eksploitasi?

Ekor panjang seperti duri (telson) yang digunakan untuk membalikkan tubuh jika terguling, bukan untuk menyengat.


Kaki dan insang berada di bagian bawah tubuh. Ukuran bervariasi, namun bisa mencapai panjang 60 cm (termasuk ekor).

Meski terlihat cukup mengerikan, hewan ini tidak berbahaya bagi manusia, mereka tidak memiliki racun dan tidak menggigit.

Baca Juga: Sadis! Menjadi Korban Bully Pelajar Asal Bandung Ini diseret, dipukul, Lalu diceburkan ke Sumur!

Meskipun disebut "kepiting", hewan ini sebenarnya lebih dekat dengan kalajengking dan laba-laba secara evolusioner.

Hewan laut ini banyak ditemukan di kawasan perairan Atlantik bagian tengah, seperti wilayah pesisir Delaware, New Jersey, hingga Maryland, khususnya saat musim semi dan panas.

Juga ditemukan di Asia Tenggara, seperti di perairan Thailand, Indonesia, dan Malaysia (dengan spesies berbeda: Tachypleus gigas, Carcinoscorpius rotundicauda).

Baca Juga: OTT KPK di Mandailing Natal, Dugaan Suap Proyek Jalan Seret ASN dan Swasta

Migrasi kepiting tapal kuda mencapai puncaknya saat musim semi dan gugur, menjadikan momen ini penting bagi para peneliti dan ilmuwan untuk melakukan pengamatan.

Salah satu fakta unik dari makhluk ini adalah darahnya yang berwarna biru terang.

Warna tersebut berasal dari kandungan hemocyanin, serta adanya sel imun yang sangat peka terhadap toksin bakteri.

Baca Juga: OTT KPK di Mandailing Natal, Dugaan Suap Proyek Jalan Seret ASN dan Swasta

Sel-sel tersebut memiliki kemampuan untuk menggumpal saat mendeteksi keberadaan racun, membentuk penghalang alami yang melindungi tubuh kepiting dari infeksi.

Kemampuan luar biasa ini dimanfaatkan para ilmuwan untuk mengembangkan tes limulus amoebocyte lysate (LAL), sebuah metode penting untuk mendeteksi kontaminasi bakteri pada vaksin dan produk medis lainnya.

Sejak tahun 1970-an, uji LAL telah menjadi standar global, termasuk dalam pengujian vaksin termasuk vaksin Covid-19.

Baca Juga: Gelar Fan Meeting Perdana di Jakarta, Lee Dohyun Ikuti Trend Velocity!

Tanpa darah kepiting ini, deteksi kontaminasi mikroba bisa jauh lebih sulit dan mahal.

Tingginya nilai biologis darah kepiting tapal kuda membuat harganya melambung tinggi.

Menurut laporan The Science Times, satu liter darah hewan ini bisa bernilai hingga Rp 213 juta.

Baca Juga: Ungkap Telah Selamatkan Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran, Donald Trump: Saya Malah Dihujani Kebencian

Namun pemanfaatan darah biru milik Kepiting Tapak Kuda ditentang beberapa pihak.

Hal ini karena pengambilan darah biasanya dilakukan dengan menangkap dan mengekstraksi darah, lalu melepaskan kembali, namun tingkat kematian setelah dilepas bisa tinggi (10–30%).

Beberapa organisasi menyerukan perlindungan dan penggunaan alternatif sintetis seperti reagen rekombinan (rFC). Di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, kepiting ini sudah dilindungi untuk menjaga populasi tetap stabil.

Baca Juga: Ngeri! Gegara Tersangkut Mesin, Pekerja Asal Indonesia Meninggal di Pabrik Changwon Korea Selatan!

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X