Fenomena ini mengingatkan kita bahwa media sosial bisa menjadi pedang bermata dua.
Di satu sisi, ia adalah alat yang kuat untuk berbagi informasi dan menyuarakan aspirasi,
di sisi lain, ia bisa menjadi tempat yang berbahaya ketika komentar-komentar yang seharusnya kritis berubah menjadi serangan pribadi dan ujaran kebencian.
Najwa sendiri pernah ditanyai mengenai dinasti politik di DPR, sebuah isu yang sensitif dan kompleks,
dan ketika ia tidak langsung merespons, komentar-komentar negatif kembali muncul, menuduhnya diam atau tidak cukup kritis terhadap topik tersebut.
Baca Juga: Begal yang Meresahkan Warga Ditangkap di Cikarang Utara, Pelaku Nyaris Diamuk Massa
Padahal, sebagai seorang jurnalis, Najwa selalu berusaha menjalankan prinsip-prinsip jurnalistik yang etis.
Namun, di tengah derasnya arus komentar yang negatif, sulit baginya untuk merespons setiap tuduhan.
Bagi para pengamat media, serangan ini bukanlah fenomena baru.
“Pembunuhan karakter” sering dilakukan untuk mengurangi kredibilitas seorang tokoh yang kritis, terutama ketika pihak tertentu merasa terusik.
Harapannya, masyarakat bisa lebih bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat,
tidak hanya dengan memahami esensi dari kritik yang sehat, tetapi juga dengan menghindari ujaran yang menyerang personal.
Mari kita doakan agar ruang-ruang publik kita, termasuk media sosial, menjadi tempat yang lebih baik untuk diskusi yang membangun, bukan arena untuk menyebarkan kebencian.