INSIBERNEWS - Pemerintah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 setelah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memetakan sedikitnya 12 kecamatan berpotensi mengalami krisis air bersih. Wilayah-wilayah tersebut kini menjadi prioritas penanganan untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang diperkirakan mulai terasa dalam beberapa bulan ke depan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Temanggung, Totok Nursetyanto, mengatakan pemetaan dilakukan berdasarkan kondisi sumber air, curah hujan, hingga riwayat kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, langkah antisipasi harus dilakukan lebih awal agar distribusi bantuan dapat berjalan lebih cepat saat musim kemarau mencapai puncaknya.
Baca Juga: Iran Buka Suara Soal Negosiasi dengan AS: 'Sulit, Tapi Belum Gagal'
“Berdasarkan hasil pemetaan, ada 12 kecamatan yang masuk prioritas penanganan kekeringan tahun ini,” ujar Totok di Temanggung, Sabtu (16/5/2026).
Belasan kecamatan tersebut meliputi Pringsurat, Kaloran, Bulu, Kandangan, Selopampang, Tlogomulyo, Tembarak, Kranggan, Bejen, Candiroto, Gemawang, dan Jumo. Sejumlah wilayah itu dinilai memiliki kerentanan tinggi terhadap berkurangnya pasokan air bersih, terutama untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian warga.
BPBD menyebut pemerintah daerah telah menyiapkan skema distribusi air bersih apabila kondisi kekeringan mulai meluas. Selain menyiapkan armada tangki air, koordinasi juga dilakukan dengan pemerintah desa dan kecamatan untuk memastikan titik-titik rawan dapat dipantau secara berkala.
Baca Juga: Afrika CDC Ungkap Lonjakan Kematian Kasus Wabah Ebola di Kongo Timur, 65 Orang Tewas
Langkah mitigasi disebut sudah dimulai sejak April 2026. Surat edaran terkait kesiapsiagaan bencana kekeringan telah dikirimkan kepada para camat dan kepala desa agar masyarakat mulai melakukan penghematan penggunaan air serta menjaga sumber mata air yang masih tersedia.
Musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih kering di sejumlah wilayah Jawa Tengah seiring meningkatnya pengaruh fenomena El Nino.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memicu penurunan debit air, gangguan pertanian, hingga kesulitan akses air bersih apabila tidak diantisipasi sejak dini oleh pemerintah maupun masyarakat.***
Artikel Terkait
Polisi Dalami Dugaan Prostitusi Anak di Blok M, Libatkan WNA dan Jejak Digital Media Sosial
ESDM Selidiki Dugaan Tambang Emas Ilegal Rp200 Miliar di Sangihe, WNA Asal China Diduga Terlibat
BMKG Ingatkan Kemarau 2026 Berpotensi Lebih Kering, Warga Diminta Mulai Bijak Penggunaan Air
Afrika CDC Ungkap Lonjakan Kematian Kasus Wabah Ebola di Kongo Timur, 65 Orang Tewas
Iran Buka Suara Soal Negosiasi dengan AS: 'Sulit, Tapi Belum Gagal'