INSIBERNEWS - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mulai bersiap menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi berlangsung lebih kering dibanding tahun sebelumnya.
Salah satu langkah sederhana yang disarankan ialah menyiapkan cadangan air bersih sejak sekarang, terutama di wilayah yang rawan mengalami kekeringan.
Baca Juga: Polisi Dalami Dugaan Prostitusi Anak di Blok M, Libatkan WNA dan Jejak Digital Media Sosial
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan masyarakat perlu lebih waspada karena potensi fenomena El Nino tahun ini cukup tinggi. Kondisi tersebut dapat memicu berkurangnya curah hujan di sejumlah daerah Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
“Masyarakat sebaiknya mulai menyimpan air selagi curah hujan masih tersedia. Langkah ini penting untuk menghadapi musim kemarau yang diperkirakan lebih panjang dan kering pada tahun 2026,” ujar Ardhasena, Jumat (15/5/2026).
BMKG mencatat peluang terjadinya El Nino dengan kategori moderat kini mencapai 86 persen. Sementara itu, kemungkinan El Nino berkembang menjadi lebih kuat berada di kisaran 16 persen.
Fenomena ini biasanya berdampak pada wilayah Indonesia bagian selatan garis khatulistiwa, termasuk Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Di wilayah DKI Jakarta sendiri, perubahan musim mulai terasa dalam beberapa pekan terakhir. Cuaca panas pada siang hari mulai lebih dominan, sementara intensitas hujan perlahan menurun.
BMKG menyebut kondisi tersebut merupakan tanda peralihan menuju musim kemarau yang terjadi secara bertahap.
Baca Juga: Satu Pasien Meninggal Usai Kebakaran RSUD Dr Soetomo, Ini Penjelasan Pihak Rumah Sakit
Untuk wilayah Jakarta bagian tengah, musim kemarau diperkirakan mulai berlangsung pada pertengahan Mei atau Dasarian II. Sedangkan kawasan Jakarta Selatan diprediksi baru memasuki musim kemarau menjelang akhir Mei atau Dasarian III.
Perubahan pola cuaca ini diperkirakan juga akan terjadi di sejumlah daerah penyangga ibu kota.
Selain menghemat penggunaan air, masyarakat juga diimbau menjaga kesehatan selama musim kemarau berlangsung. Cuaca panas berkepanjangan berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi, kebakaran lahan, hingga menurunnya kualitas udara di beberapa wilayah apabila tidak diantisipasi sejak dini.***
Artikel Terkait
Usai Sahkan Hukuman Mati Tahanan Palestina, Menhan Israel Blak-blakan Ingin Bangun Permukiman di Lebanon
Perang Iran Jadi Keuntungan Besar untuk China, Buat AS Mulai Khawatir?
Polisi Dalami Dugaan Prostitusi Anak di Blok M, Libatkan WNA dan Jejak Digital Media Sosial
ESDM Selidiki Dugaan Tambang Emas Ilegal Rp200 Miliar di Sangihe, WNA Asal China Diduga Terlibat