Suara Warga Cisarua usai Longsor: Petani Jangan Terus Disudutkan, Ini Soal Krisis Iklim!

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Sabtu, 31 Januari 2026 | 13:17 WIB
Menyoroti penuturan pegiat lingkungan sekaligus warga Cisarua yang wilayahnya terdampak bencana longsor. (Instagram.com/@aisyahbertani)
Menyoroti penuturan pegiat lingkungan sekaligus warga Cisarua yang wilayahnya terdampak bencana longsor. (Instagram.com/@aisyahbertani)

INSIBERNEWS - Perbincangan soal penyebab bencana longsor yang melanda Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada 24 Januari 2026, ramai menyita perhatian publik. Di media sosial, sebagian warganet dengan cepat menuding alih fungsi lahan sebagai faktor utama terjadinya bencana tersebut.

Di tengah derasnya opini publik, seorang pegiat lingkungan yang juga warga asli Cisarua, Siti Aisyah Novitri, menyampaikan pandangannya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @aisyahbertani, Aisyah membagikan kesaksian sekaligus analisis atas bencana yang menimpa kampung halamannya.

Baca Juga: Rifqinizamy Dorong Ambang Batas Parlemen, Dinilai Kunci Partai Solid dan Demokrasi Berkualitas

“Kampung halamanku dilanda longsor dan banjir bandang,” tulis Aisyah, Sabtu (31/1/2026).

Dalam keterangannya, Aisyah tidak menampik bahwa alih fungsi lahan berkontribusi terhadap kerentanan lingkungan. Namun, ia menegaskan bahwa menyederhanakan penyebab longsor hanya pada isu tersebut merupakan kesimpulan yang keliru dan tidak adil.

“Jangan salahkan petani. Longsor Cisarua bukan semata soal alih fungsi lahan. Ini tentang keadilan iklim,” tegasnya.

Baca Juga: Diperiksa Hampir Lima Jam di KPK, Yaqut Tegaskan Tak Ada Kuota Haji untuk Maktour

Aisyah menjelaskan, titik awal longsor justru berasal dari kawasan puncak Gunung Burangrang yang masih tergolong rimbun. Menurutnya, hujan dengan intensitas sangat tinggi menjadi pemicu utama yang menyebabkan longsoran tanah menutup jalur aliran air di bagian hulu.

Akibat tertutupnya jalur tersebut, lanjut Aisyah, terbentuk bendungan alami. Tekanan air bercampur lumpur, pasir, dan batuan kemudian jebol dan mengalir deras ke bawah, diperparah oleh kemiringan lereng yang mencapai 20 hingga 25 persen.

Baca Juga: Misteri Bercak Darah di Kamar Almarhumah Lula Lahfah Terungkap, Begini Kata Forensik

“Aliran lumpur dan material menghantam rumah-rumah warga. Bahkan hutan lebat sekalipun kini tak sepenuhnya mampu menahan cuaca ekstrem,” ujarnya.

Selain faktor geografis, Aisyah juga menyoroti perubahan iklim sebagai penyebab mendasar meningkatnya frekuensi bencana. Pemanasan global, kata dia, membuat udara menyimpan lebih banyak uap air, sehingga hujan yang turun menjadi lebih lebat dan berlangsung lebih lama.

“Apa yang terjadi di Cisarua adalah dampak nyata krisis iklim yang sedang kita hadapi,” katanya.

Baca Juga: PBNU Sambut Langkah Prabowo Masuk Dewan Perdamaian Gaza, Ingatkan Jangan Abai Kepentingan Palestina

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X