INSIBERNEWS - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih berada dalam tekanan dalam beberapa pekan terakhir. Namun pemerintah menilai pelemahan tersebut hanya bersifat sementara dan lebih dipengaruhi faktor eksternal serta kondisi musiman global.
Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026), kurs rupiah tercatat berada di level Rp17.823 per dolar AS. Kondisi itu membuat mata uang Garuda menjadi salah satu yang mengalami tekanan paling besar di kawasan Asia sejak awal tahun 2026.
Baca Juga: HUT Jakarta Bawa Kabar Baik, Denda Pajak Kendaraan Resmi Dihapus Sementara
Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pergerakan rupiah saat ini sebenarnya tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, indikator ekonomi domestik masih relatif kuat dan mampu menjadi penopang stabilitas dalam jangka menengah maupun panjang.
“Fundamental ekonomi kita masih cukup baik. Karena itu kami melihat tekanan terhadap rupiah ini lebih dipengaruhi sentimen global dan sifatnya sementara,” ujar Purbaya dalam keterangannya.
Baca Juga: Adhisty Zara dan Tsaqib Resmi Umumkan Pernikahan, Potret Baby Bump Tuai Sorotan Netizen
Sejak Januari 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 6,6 persen terhadap dolar AS. Sementara selama Mei 2026 saja, depresiasi nilai tukar mencapai sekitar 3 persen.
Tekanan tersebut terjadi di tengah penguatan dolar global akibat kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia.
Baca Juga: Siklon Tropis Jangmi Menguat, BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Indonesia Timur
Meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan secara agresif untuk menjaga stabilitas rupiah, tekanan dari arus modal global dan sentimen pasar masih cukup kuat. Namun pemerintah optimistis kondisi akan membaik seiring stabilnya inflasi dan terjaganya pertumbuhan ekonomi nasional.
Sejumlah analis menilai penguatan rupiah tetap sangat bergantung pada perkembangan ekonomi global, terutama arah kebijakan bank sentral AS dan kondisi geopolitik dunia.
Meski begitu, pemerintah percaya konsumsi domestik, investasi, dan ekspor Indonesia masih mampu menjadi penyangga utama agar rupiah kembali stabil dalam beberapa bulan mendatang.***
Artikel Terkait
Dolar AS Bergerak Fluktuatif Usai The Fed Kembali Pangkas Suku Bunga, Pasar Masih Menunggu Sinyal Kebijakan Lanjutan
KPK Sita Ribuan Dolar Singapura dari Kantor Pajak Jakut, Jejak Dugaan Rekayasa Pajak Terkuak
Belanja AI Global Melejit, Industri Teknologi Siap Kucurkan Triliunan Dolar hingga 2027
Rupiah Melemah ke Rp17,800 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan APBN dan Pasar Tetap Terkendali