INSIBERNEWS – Rencana peleburan dua raksasa layanan digital, GoTo dan Grab, kembali menjadi sorotan setelah Badan Pengelola Investasi Danantara memastikan keterlibatannya dalam proses tersebut.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa langkah ini bukan semata keputusan bisnis, melainkan dorongan untuk memastikan ekosistem transportasi online tetap sehat dan para mitra pengemudi tidak dirugikan.
Di sela Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 di Jakarta, Jumat (29/11/2025), Rosan menyebut bahwa Danantara melihat merger ini sebagai momentum untuk memperbaiki fondasi industri ojek online yang saat ini menopang mata pencaharian ratusan ribu pekerja informal.
“Yang penting buat Danantara adalah menjaga kesejahteraan para ojol,” ujar Rosan.
“Kalau Danantara masuk, kita ingin memastikan kesejahteraan ojol, justru itu yang paling utama.”
Baca Juga: Heboh Video ‘Penjarahan’ di Sumut, BNPB: Itu Reaksi Warga yang Sudah Berhari-hari Tak Makan
Rosan menilai, dunia ride-hailing mengalami persaingan yang cukup ketat dalam beberapa tahun terakhir. Operasional yang membutuhkan biaya besar serta penurunan konsumsi masyarakat membuat perusahaan-perusahaan teknologi menghadapi tekanan untuk menyeimbangkan biaya dan layanan.
Dalam situasi seperti ini, posisi driver rentan terdampak, mulai dari perubahan skema insentif hingga menurunnya keberlanjutan pendapatan harian.
Menurutnya, kehadiran Danantara di dalam proses merger diharapkan memberi keseimbangan baru, terutama sebagai pihak yang dapat menjembatani kepentingan bisnis dan kepentingan sosial. Ia menyebut, merger besar ini hanya akan efektif jika berdampak positif bagi para pekerja lapangan yang beroperasi setiap hari.
Baca Juga: Keluar Penjara Berkat Rehabilitasi Presiden, Ira Puspadewi Akui Hidupnya ‘Dibakar’ untuk Jadi Emas
Rosan juga mengungkapkan bahwa Danantara ingin memastikan ada standar perlindungan yang lebih kuat bagi pengemudi setelah merger berlangsung. Mulai dari skema tarif yang lebih adil, jaringan bantuan operasional yang lebih jelas, hingga fasilitas kesejahteraan jangka panjang agar pengemudi tidak lagi berada di posisi serba rentan.
Lebih jauh, Rosan menilai peleburan dua platform besar ini bisa ikut memperkuat industri digital nasional, terutama dari sisi efisiensi biaya dan inovasi layanan. Namun ia menegaskan bahwa efisiensi tidak boleh menekan para mitra pengemudi yang menjadi tulang punggung layanan tersebut.
“Kita ingin industri berkembang, tapi tidak boleh lupa siapa yang membawa roda roda layanan ini bergerak,” katanya.
Artikel Terkait
Prabowo Menangis Lihat Anak Menyeberang Sungai demi Sekolah: 'Kita Harus Cepat Bertindak!'
Pelaku Ledakan SMAN 72 Dipindahkan ke Rumah Aman, Polisi Tegaskan Kondisi Psikis Belum Stabil
Rekening Masih Dibekukan, Ira Puspadewi Cerita soal Bantuan Teman hingga Momen Setelah Dapat Rehabilitasi
Banjir dan Longsor Terjang Agam-Sumbar: 74 Warga Meninggal, Ribuan Mengungsi, Kerugian Tembus Rp13,9 Miliar
Pengamat Politik Ray Rangkuti Soroti Manuver Kapolri Bentuk Tim Reformasi Internal: ‘Kenapa Baru Sekarang?’
TNI Genjot Distribusi Bantuan ke Aceh–Sumut: 11 Helikopter Dikerahkan, Tim Medis Turun ke Daerah Terisolasi
BRI Mendukung UMKM Naik Kelas dengan Kolaborasi Bersama SOGO
Bencana Besar di Sumatera: Korban Jiwa Tembus 303 Orang, Akses Masih Terputus dan Cuaca Tak Bersahabat
Keluar Penjara Berkat Rehabilitasi Presiden, Ira Puspadewi Akui Hidupnya ‘Dibakar’ untuk Jadi Emas
Heboh Video ‘Penjarahan’ di Sumut, BNPB: Itu Reaksi Warga yang Sudah Berhari-hari Tak Makan