INSIBERNEWS - Setelah hampir dua minggu sejak tragedi robohnya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, proses evakuasi korban resmi ditutup pada Selasa, 7 Oktober 2025.
Kini fokus pemerintah dan aparat kepolisian beralih ke tahap penyelidikan hukum untuk memastikan penyebab serta potensi adanya unsur pidana di balik kejadian memilukan tersebut.
Baca Juga: Dearly Angkat Bicara Buntut Video Viral Ari Lasso yang Terlihat Kasar, Sebut Ia Sosok Pacar Baik
Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Jules Abraham Abast, mengonfirmasi bahwa hasil gelar perkara yang dilakukan tim penyidik telah menaikkan status kasus dari penyelidikan menjadi penyidikan. Artinya, proses hukum kini memasuki tahap yang lebih serius untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas insiden ini.
“Hasil gelar perkara menunjukkan adanya bukti permulaan yang cukup, sehingga status kasus ini kami tingkatkan ke tahap penyidikan,” kata Jules dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis, 9 Oktober 2025.
Baca Juga: Penjualan Mobil di Indonesia Naik Tipis pada September 2025, Tapi Masih Lesu Dibanding Tahun Lalu
Menurutnya, penyidik akan segera melakukan pemanggilan saksi-saksi tambahan dan meminta keterangan dari para ahli, termasuk ahli konstruksi dan forensik bangunan.
“Kami akan memanggil saksi dan meminta keterangan ahli sebagai bagian dari alat bukti yang bisa membantu mengungkap dugaan tindak pidana,” tambahnya.
Hingga saat ini, sudah ada 17 orang yang telah dimintai keterangan oleh Polda Jawa Timur. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pengurus pondok, pekerja bangunan, hingga pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembangunan musala yang ambruk.
Namun, Jules menegaskan hanya saksi yang benar-benar relevan dengan kejadian yang akan didalami lebih jauh.
Baca Juga: Aplikasi Palsu 'Sora' Serbu App Store, OpenAI Kebanjiran Tiruan Usai Peluncuran Resmi
“Tidak semua orang yang datang ke lokasi akan kami periksa mendalam. Kami fokus pada mereka yang mengetahui proses pembangunan atau berada di tempat kejadian saat musala roboh,” ujarnya.
Tragedi yang terjadi pada Senin, 29 September 2025 itu menewaskan puluhan santri. Insiden terjadi saat para santri sedang menunaikan salat Ashar di musala yang kemudian runtuh secara tiba-tiba.
Tim SAR Gabungan membutuhkan waktu sembilan hari penuh untuk mengevakuasi seluruh korban dan membersihkan puing bangunan yang menimpa para santri.
Artikel Terkait
Hotman Paris Sindir Proses Penyidikan Kasus Nadiem dengan Analogi 'Kasus Pelecehan' di Sidang Praperadilan
BMW Tarik 15 Ribu Mobil di Australia, Ada Risiko Korsleting hingga Kebakaran Mesin
Ramainya Pekerja Informal di Indonesia, Menkeu Purbaya: Lulusan S1 Jangan Khawatir
Program Magang Bergaji Pemerintah Bakal Tambah Kuota hingga 100 Ribu Peserta
Ammar Zoni Terjerat Kasus Edarkan Sabu dari Balik Rutan Buat Peluang Bebas Pupus
Visa Dibatalkan, 6 Atlet Israel Gagal Tampil di Kejuaraan Dunia Senam Jakarta Imbas Penolakan Publik
Hotman Paris Yakin Nadiem Bakal Menang Praperadilan: 'Belum Ada Kerugian Negara, Kok Sudah Jadi Tersangka
Aplikasi Palsu 'Sora' Serbu App Store, OpenAI Kebanjiran Tiruan Usai Peluncuran Resmi
Penjualan Mobil di Indonesia Naik Tipis pada September 2025, Tapi Masih Lesu Dibanding Tahun Lalu
Dearly Angkat Bicara Buntut Video Viral Ari Lasso yang Terlihat Kasar, Sebut Ia Sosok Pacar Baik