Dedi Mulyadi Beberkan Alasan Kenapa Anak Nakal Bakal Masuk Barak TNI-Polri

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Rabu, 30 April 2025 | 06:30 WIB
Foto sosok Kang Dedi Mulyadi Gubernur Jabar.(Dok. foto KDM channel)
Foto sosok Kang Dedi Mulyadi Gubernur Jabar.(Dok. foto KDM channel)

INSIBERNEWS - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tengah menyiapkan gebrakan baru untuk menangani siswa bermasalah yang kian hari kian memprihatinkan.

Lewat program pembinaan berbasis barak militer, Dedi berencana mengirim anak-anak dengan tingkat kenakalan akut ke markas TNI dan Polri, bukan untuk latihan militer, tapi untuk menjalani serangkaian kegiatan disiplin yang bertujuan membentuk mental, fisik, dan moral yang lebih sehat. Program ini sudah dalam tahap persiapan dan akan mulai dijalankan resmi pada 2 Mei 2025.

Baca Juga: Ancaman Krisis Elektronik di AS, Pegatron Soroti Dampak Tarif Impor yang Menghantui

Menurut Dedi, banyak guru dan orang tua yang kini kewalahan menghadapi perilaku anak-anak yang makin sulit dikendalikan. Ia menyebut, fenomena ini tak lepas dari tekanan sosial dan ekonomi yang menghantam masyarakat.

“Orang tua banyak yang sudah menyerah. Guru-guru pun banyak yang bingung harus bagaimana. Kita sedang hadapi generasi yang tumbuh dalam lingkungan penuh distraksi dan tekanan,” ucap Dedi usai rapat kerja dengan Komisi II DPR di Jakarta.

Baca Juga: Masuk Dalam Naungan Danantara, Kawasan GBK Direncanakan Jadi Aset yang Produktif dan Bisa Menghasilkan

Dedi menyoroti berbagai kasus yang mencerminkan krisis moral di kalangan remaja. Ia mencontohkan kasus mengejutkan di Purwakarta, di mana delapan siswa SMP secara brutal menghabisi nyawa kakeknya karena kecanduan gim daring.

Menurutnya, ini bukan lagi soal kenakalan biasa, melainkan gejala krisis karakter yang mendalam.

“Mereka sudah tak bisa dibina lagi oleh lingkungan keluarga. Maka, negara harus turun tangan,” tegasnya.

Baca Juga: Menjadi PR yang Sangat Besar, Rosan Roeslani Ungkap Danantara Siap Kelola GBK

Di barak-barak TNI-Polri, para siswa nantinya akan mengikuti serangkaian kegiatan fisik, disiplin dasar, serta pembinaan mental tanpa ada unsur militeristik ekstrem.

Fokusnya adalah memperbaiki pola pikir dan gaya hidup remaja yang sebelumnya terjerumus dalam perilaku menyimpang seperti merokok, konsumsi miras oplosan, hingga penyalahgunaan obat.

“Bukan perang-perangan, ini soal mengembalikan kesehatan jiwa dan raga mereka,” jelas Dedi.

Baca Juga: Usai Kasusnya Viral, Kelulusan Tersangka Perundungan dr Aulia Ditangguhkan, Menkes Budi: Itulah Indonesia

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X