INSIBERNEWS - Industri teknologi global diperkirakan akan terus mengalirkan dana jumbo ke sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam beberapa tahun ke depan. Tren ini mencerminkan keyakinan kuat bahwa AI akan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi digital dunia.
Firma riset dan wawasan teknologi Gartner memperkirakan total belanja global untuk AI akan menembus USD2,53 triliun pada 2026. Jika dikonversi, nilainya setara sekitar Rp43 ribu triliun, angka yang menunjukkan skala investasi yang sangat masif.
Baca Juga: Struktur Cukai Rokok Bakal Dirombak, Kemenkeu Siapkan Lapisan Tarif Baru
Lonjakan tersebut belum akan berhenti. Berdasarkan proyeksi yang sama, pengeluaran untuk AI diperkirakan meningkat tajam menjadi USD3,33 triliun pada 2027, seiring makin luasnya adopsi teknologi AI di berbagai sektor industri.
Laporan yang dikutip dari Yahoo Finance, Senin (19/1/2026), menyebutkan bahwa sebagian besar dana tersebut akan diarahkan ke pembangunan dan penguatan infrastruktur AI. Infrastruktur ini mencakup pusat data, komputasi awan, chip semikonduktor, hingga jaringan berkecepatan tinggi.
Baca Juga: Tak Sejalan dengan PBB, Prancis Tolak Gabung Dewan Perdamaian Gaza Bentukan Trump
Gartner mencatat, belanja untuk infrastruktur AI saja diproyeksikan mencapai USD1,36 triliun pada 2026. Angka itu diperkirakan kembali melonjak menjadi USD1,75 triliun pada 2027, menandakan kebutuhan besar akan daya komputasi yang mumpuni.
Kenaikan belanja ini tidak terlepas dari persaingan ketat antar perusahaan teknologi global. Raksasa teknologi berlomba mengembangkan model AI generatif, sistem otomasi canggih, serta solusi berbasis data untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Selain sektor teknologi, investasi AI juga mulai merambah industri lain seperti keuangan, manufaktur, kesehatan, hingga pemerintahan. AI dinilai mampu memangkas biaya operasional sekaligus membuka peluang bisnis baru.
Namun, Gartner mengingatkan bahwa lonjakan investasi ini juga perlu diimbangi dengan tata kelola yang baik. Isu keamanan data, etika penggunaan AI, serta kesiapan sumber daya manusia menjadi tantangan yang harus dijawab seiring derasnya aliran modal ke sektor ini.***