INSIBERNEWS - Bulan Februari menjadi bulan yang paling unik dalam kalender Masehi. Dengan jumlah hari yang hanya 28 atau 29 hari, Februari sering menjadi perbincangan banyak orang.
Banyak yang penasaran, mengapa Februari hanya memiliki 28 hari, sementara bulan lain memiliki 30 atau 31 hari? Jawabannya terletak pada sejarah panjang kalender yang kita gunakan saat ini, yaitu kalender Gregorian, yang diperkenalkan oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1582.
Baca Juga: Menyambut Februari 2025, Apa Saja Libur yang Menanti?
Awalnya, kalender Romawi yang digunakan oleh bangsa Romawi kuno memiliki 10 bulan saja, yang dimulai dari Maret hingga Desember. Januari dan Februari tidak ada dalam kalender tersebut.
Ketika Kaisar Romawi Numa Pompilius memperkenalkan sistem kalender lunar, ia menambahkan bulan Januari dan Februari, namun ia kesulitan untuk menyesuaikan dengan siklus matahari yang lebih panjang.
Oleh karena itu, Februari dipilih sebagai bulan dengan jumlah hari yang lebih sedikit, yakni 28 hari, karena dianggap sebagai bulan yang kurang penting dibandingkan bulan lainnya.
Baca Juga: Raffi Ahmad Lapor Kekayaannya ke LHKPN, Totalnya Capai RP1 Triliun
Seiring berjalannya waktu, sistem kalender Romawi terus diperbaiki dan akhirnya muncul kalender Julian yang diperkenalkan oleh Julius Caesar pada tahun 45 SM.
Pada sistem ini, setiap tahun terdiri dari 365 hari, dengan tambahan satu hari setiap empat tahun (tahun kabisat). Meski demikian, masih ada ketidakseimbangan dalam perhitungan waktu, sehingga Paus Gregorius XIII memperkenalkan kalender Gregorian pada tahun 1582 untuk lebih menyelaraskan tahun dengan musim.
Baca Juga: Tragedi Kecelakaan Mobil Dinas Sosial di Tol Jombang, Dua Korban Tewas
Dalam sistem ini, Februari tetap dipertahankan dengan 28 hari, dengan penambahan satu hari di tahun kabisat.
Mengapa Februari tetap memiliki jumlah hari yang lebih sedikit dibandingkan bulan lainnya? Salah satunya adalah agar penyesuaian waktu dalam kalender dapat dilakukan dengan tepat.
Baca Juga: KPK Tetapkan Tiga Tersangka dalam Kasus Korupsi Digitalisasi SPBU Pertamina
Dengan memasukkan 29 hari pada tahun kabisat setiap empat tahun sekali, kalender ini memungkinkan tahun tetap mengikuti pergerakan matahari, dengan total 365,24 hari dalam setahun.
Artikel Terkait
Target Turunkan Kemiskinan Ekstrem, Pemerintah Siapkan Strategi Bertahap
Stasiun Karet Bakal Disulap Jadi Ruang Publik, Terhubung ke Stasiun BNI City
Harga Emas Sentuh Rekor Tertinggi, Dolar Melemah Usai Data Ekonomi AS Mengecewakan
Tottenham Pesta Gol ke Gawang Elfsborg, Lolos ke 16 Besar Liga Europa
Trump Ancam Negara BRICS dengan Tarif 100 Persen jika Ciptakan Mata Uang Baru
KPK Tetapkan Tiga Tersangka dalam Kasus Korupsi Digitalisasi SPBU Pertamina
Timnas Indonesia U-20 Hanya Menang Sekali, Begini Respon Jens Raven
Tragedi Kecelakaan Mobil Dinas Sosial di Tol Jombang, Dua Korban Tewas
Raffi Ahmad Lapor Kekayaannya ke LHKPN, Totalnya Capai RP1 Triliun
Menyambut Februari 2025, Apa Saja Libur yang Menanti?