Perbedaan Antara Simpati dan Empati: Mana yang Lebih Penting?

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Selasa, 17 September 2024 | 15:38 WIB
Foto Ilustrasi : Simpati dan Empati: Dua Sisi Kepedulian yang Sering Keliru Dimengerti  (Image by Drazen Zigic on Freepik)
Foto Ilustrasi : Simpati dan Empati: Dua Sisi Kepedulian yang Sering Keliru Dimengerti (Image by Drazen Zigic on Freepik)

INSIBERNEWS - Dalam interaksi sosial sehari-hari, dua kata yang sering terdengar adalah "simpati" dan "empati."

Meskipun keduanya terdengar mirip, sebenarnya mereka punya makna dan dampak yang berbeda dalam cara kita berhubungan dengan orang lain.

Jadi, apa bedanya simpati dan empati, dan kapan sebaiknya kita menunjukkan salah satu dari keduanya?

Apa Itu Simpati?

Simpati adalah perasaan peduli atau kasihan terhadap kesulitan yang dialami orang lain, tanpa ikut merasakan apa yang mereka rasakan.

Ketika kamu menunjukkan simpati, kamu mengakui bahwa seseorang sedang mengalami sesuatu yang sulit, tapi kamu tidak sepenuhnya terlibat secara emosional.

Simpati itu lebih seperti pengamatan dari luar kamu paham ada masalah, tapi nggak masuk ke dalam perasaan orang tersebut.

Contohnya, jika temanmu bercerita bahwa dia baru saja kehilangan pekerjaan, kamu mungkin mengatakan, “Aduh, aku ikut prihatin. Semoga kamu cepat dapat kerja lagi, ya.”

Kamu menunjukkan simpati karena sadar dia sedang kesulitan, tapi kamu nggak benar-benar merasakan frustrasi atau kesedihan yang dia alami.

 Baca Juga: Cara Mengembangkan Simpati: Cara Praktis Membangun Hubungan yang Lebih Peduli

Apa Itu Empati?

Empati adalah kemampuan untuk benar-benar merasakan apa yang orang lain rasakan, seolah-olah kamu berada di posisi mereka.

Ketika kamu berempati, kamu nggak cuma mengakui adanya masalah, tapi juga mencoba memahami dan merasakan emosi orang tersebut.

Empati membutuhkan usaha yang lebih dalam karena kamu harus masuk ke perspektif orang lain dan berbagi beban emosionalnya.

Sebagai contoh, ketika temanmu kehilangan pekerjaan dan kamu berempati, kamu nggak hanya berkata, “Aku ikut sedih,” tapi juga mencoba memahami bagaimana stresnya dia.

Kamu mungkin akan bilang, “Aku nggak bisa bayangkan betapa stres dan khawatirnya kamu saat ini.

Kalau aku di posisimu, mungkin aku akan merasa sangat tertekan.” Dengan begitu, kamu mencoba mengerti dan merasakan apa yang temanmu rasakan.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X