INSIBERNEWS - Masa liburan panjang kerap dibayangkan sebagai momen istirahat dan kebahagiaan. Namun di balik suasana hangat keluarga dan agenda rekreasi, banyak perempuan justru menghadapi tekanan mental yang tidak ringan. Sebuah studi terbaru menunjukkan, liburan tidak selalu identik dengan rasa rileks bagi kaum perempuan.
Survei yang dilakukan Greenberg Quinlan Rosner Research di Amerika Serikat mengungkapkan, sekitar 44 persen perempuan mengaku tingkat stres mereka meningkat selama periode liburan panjang.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya, dan menandakan adanya beban tersendiri yang kerap luput dari perhatian.
Baca Juga: Sering Bangun Tengah Malam untuk Buang Air Kecil? Bisa Jadi Kamu Alami Nokturia
Secara ideal, liburan menjadi waktu untuk berkumpul, bepergian, saling bertukar hadiah, serta mempererat hubungan keluarga. Namun dalam praktiknya, persiapan dan pelaksanaan berbagai agenda tersebut sering kali bertumpu pada perempuan, mulai dari merencanakan perjalanan, menyiapkan konsumsi, hingga mengatur kebutuhan anggota keluarga.
Tanggung jawab itu tidak berdiri sendiri. Banyak perempuan tetap harus menjalani pekerjaan profesional, mengurus rumah tangga, serta memastikan semuanya berjalan lancar selama liburan. Kondisi ini membuat waktu untuk beristirahat justru semakin menyempit, sehingga rasa lelah dan stres kerap menumpuk.
“Alih-alih menikmati liburan, banyak perempuan merasa justru bekerja lebih keras pada periode ini,” ungkap laporan survei tersebut.
Baca Juga: Bukan Cuma Obesitas, Berikut Bahaya Minuman Manis bagi Tulang yang Jarang Disadari!
Tekanan finansial juga menjadi faktor pemicu stres. Laporan dari American Psychological Association (APA) mencatat, urusan keuangan selama musim liburan menjadi salah satu sumber kecemasan utama bagi perempuan. Pengeluaran untuk perjalanan, jamuan, hingga hadiah sering kali memicu kekhawatiran tersendiri.
Tekanan sosial turut memperparah situasi. Ekspektasi untuk memberikan hadiah yang ‘layak’, menjamu keluarga dengan sempurna, serta menjaga suasana tetap harmonis membuat sebagian perempuan merasa terbebani. Perasaan bersalah kerap muncul ketika standar tersebut tidak terpenuhi.
Baca Juga: Mau Bepergian Bawa Bekal? Ini Tips Simpel Agar Makanan Tetap Hangat Sepanjang Perjalanan
“Perempuan sering merasa harus memastikan semua orang bahagia selama liburan, dan itu menjadi tekanan emosional yang nyata,” tulis APA dalam laporannya.
Para pakar kesehatan mental menilai, kondisi ini menunjukkan pentingnya pembagian peran yang lebih adil dalam keluarga. Liburan seharusnya menjadi ruang berbagi tanggung jawab, bukan menambah beban pada satu pihak saja.
Dengan komunikasi yang terbuka dan pengelolaan ekspektasi yang realistis, masa liburan dapat kembali menjadi momen pemulihan, bukan sumber stres. Mengalokasikan waktu untuk diri sendiri juga dinilai penting agar perempuan tetap dapat menjaga kesehatan mentalnya.***
Artikel Terkait
Punya Gangguan Insomnia? Sebaiknya Hindari Dulu Konsumsi Makanan Ini
Waspada Tren Matcha, Berikut Efek Samping pada Tubuh Jika Dikonsumsi Berlebihan
Tak Lagi Permanen, Google Siapkan Fitur Ganti Alamat Gmail Tanpa Buat Akun Baru
Jarang Keluar Rumah? Waspadai Tanda-Tanda Kekurangan Vitamin D yang Sering Diabaikan
Tekanan Regulator Berbuah Hasil, Apple Buka Akses Aplikasi di Luar App Store untuk iPhone
Susu Kental Manis Disorot dalam Bantuan Banjir Sumatra, Pakar Ingatkan Risiko bagi Anak
Awas, Jangan Berlebihan! 5 Jenis Makanan dan Minuman Ini Bisa Meningkatkan Risiko Kanker Usus Besar
Mau Bepergian Bawa Bekal? Ini Tips Simpel Agar Makanan Tetap Hangat Sepanjang Perjalanan
Bukan Cuma Obesitas, Berikut Bahaya Minuman Manis bagi Tulang yang Jarang Disadari!
Sering Bangun Tengah Malam untuk Buang Air Kecil? Bisa Jadi Kamu Alami Nokturia