Fenomena Operasi Plastik Berulang di Kalangan Selebriti Indonesia: Risiko BDD dan Kesehatan

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Rabu, 10 September 2025 | 13:30 WIB
Foto Nikita Mirzani dulu dan terbaru. (Istimewa)
Foto Nikita Mirzani dulu dan terbaru. (Istimewa)

INSIBERNEWSKecanduan operasi plastik kini menjadi fenomena yang semakin mengkhawatirkan di Indonesia maupun dunia.

Kondisi ini ditandai dengan individu yang terus-menerus melakukan prosedur estetik tanpa batas jelas, meski sudah menjalani operasi berulang kali.

Rasa tidak pernah puas terhadap penampilan kerap menjadi penyebab utama.

Baca Juga: Anisa Bahar Kejutkan Publik! Resmi Menikah dengan Mansya Usai 2 Minggu Berkenalan

Fenomena tersebut sering kali berkaitan dengan Body Dysmorphic Disorder (BDD) atau gangguan dismorfik tubuh.

BDD merupakan gangguan mental di mana seseorang terobsesi pada kekurangan kecil atau bahkan khayalan mengenai tubuhnya.

Penderitanya meyakini ada “cacat” pada wajah atau tubuh, padahal orang lain tidak melihat hal tersebut sebagai masalah.

Baca Juga: Headphone Ruby Red Jennie BLACKPINK Jadi Incaran, Ludes Hanya dalam Hitungan Menit!

Secara medis, BDD dikategorikan sebagai salah satu jenis gangguan obsesif-kompulsif (Obsessive Compulsive Related Disorder).

Data dari American Psychiatric Association menunjukkan prevalensi BDD sekitar 2% dari populasi umum, namun angkanya jauh lebih tinggi pada pasien operasi plastik.

Studi menyebutkan 7–15% pasien yang datang ke klinik estetika diduga mengalami BDD.

Baca Juga: Selidiki Kematian Staf KBRI Zetro Leonardo, Kemlu RI Intensif Koordinasi dengan Peru

Gejala utama BDD antara lain sering bercermin atau justru menghindari cermin, menghabiskan banyak waktu untuk menutupi bagian tubuh tertentu, serta munculnya rasa cemas atau depresi akibat ketidakpuasan pada penampilan.

Kondisi ini membuat pasien berulang kali mencari perbaikan lewat operasi plastik, meski hasil sebelumnya sudah dianggap berhasil oleh orang lain.

Risiko medis dari operasi plastik berulang juga sangat besar. Prosedur bedah maupun non-bedah dapat menimbulkan komplikasi seperti perdarahan, infeksi, jaringan parut, trombosis, bahkan kerusakan saraf.

Baca Juga: Belum Resmi Bercerai dengan Azizah Salsha, Pratama Arhan Punya Tenggat Waktu 6 Bulan Untuk Memilih!

Pada prosedur minim invasif seperti filler dan botox, risiko granuloma, iritasi, serta nekrosis jaringan juga tercatat pada sejumlah kasus.

Dr. Tompi, dokter bedah plastik sekaligus musisi, mengingatkan bahaya penggunaan filler tidak aman pada area tubuh seperti payudara dan bokong.

Menurutnya, penggunaan bahan ilegal bisa menyebabkan kerusakan jaringan permanen hingga risiko kematian, apalagi jika pasien terus-menerus melakukan penyuntikan demi mengejar standar kecantikan tertentu.

Baca Juga: Program Pemberdayaan BRI 'Pengusaha Muda BRILiaN' Bantu UMKM Healthcare Ini Berkembang Semakin Pesat!

Beberapa selebriti Indonesia diketahui sering menjalani operasi plastik. Lucinta Luna misalnya, berkali-kali mengubah bentuk hidungnya hingga ke Korea Selatan dengan biaya ratusan juta rupiah.

Nikita Mirzani pun mengakui secara terbuka telah menjalani operasi pada hidung dan wajahnya. Ivan Gunawan bahkan melakukan operasi hidung di Turki serta prosedur lain di dagu, rahang, dan pipi dengan biaya mencapai miliaran rupiah.

Roy Kiyoshi juga kerap menjalani operasi, mulai dari dagu hingga hidung, sebelum akhirnya memutuskan mengembalikan bentuk dagunya ke semula.

Baca Juga: Bukan Raffi Ahmad, Ini Sosok Muda yang Disebut Bakal Jadi Menpora Baru!

Penyanyi senior Titi DJ menjalani operasi kelopak mata dan pengurangan payudara demi alasan kesehatan, sementara pedangdut Nita Thalia mengaku rutin melakukan implan, botox, hingga sedot lemak meski pernah mengalami komplikasi berupa Bell’s palsy.

Kasus kegagalan operasi plastik pun pernah dialami Mpok Atiek. Ia harus menjalani hingga 21 kali operasi pengangkatan silikon dari wajahnya akibat komplikasi serius.

Beberapa selebriti lain dilaporkan menyesal setelah hasil operasi tidak sesuai harapan, menambah bukti nyata risiko dari kecanduan prosedur ini.

Baca Juga: Dukung Palestina, Ratusan Aktor dan Sutradara Dunia Hentikan Kerja Sama dengan Israel

Dampak psikologis jangka panjang dari kecanduan operasi plastik tidak kalah serius. Penderita BDD sering kali jatuh ke dalam siklus tak berujung antara rasa tidak puas, kecemasan sosial, hingga depresi.

Kondisi ini berbahaya jika tidak ditangani dengan konseling psikologis atau psikiatris, karena operasi plastik tidak menyelesaikan masalah mental yang mendasari.

Fenomena di kalangan selebriti Indonesia menunjukkan bahwa obsesi terhadap penampilan ideal bisa menyeret seseorang ke dalam lingkaran kecanduan operasi plastik.

Baca Juga: Day 1 Jadi Menteri, Purbaya Yudhi Sadewa Sebut Demo Muncul Karena Rakyat Kurang Sibuk

Meski hasil estetika mungkin tampak memuaskan sesaat, risiko medis dan psikologis dari kecanduan ini jauh lebih besar.

Kesadaran akan bahaya BDD dan pentingnya kesehatan mental perlu menjadi fokus utama sebelum seseorang memutuskan melakukan prosedur bedah estetika.

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X